Profesionalisme Guru

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Akhir-akhir ini masalah profesionalisme guru ramai dibicarakan. Secara factual diakui bahwa terbitnya Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) pada dasarnya bertujuan untuk memberdayakan profesi guru melalui kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik. UUGD yang menuntut kualifikasi guru minimal berpendidikan D4/S1 membuat para guru, terutama guru SD, mulai berlomba mencari gelar sarjana. Bagi kebanyakan guru, keinginan untuk bisa mengikuti sertifikasi menjadi semacam cita-cita. Harapannya, jika mereka lulus dan mendapat sertifikat pendidik, selain menerima tunjangan fungsional, maka mereka pun dijanjikan menerima tunjangan profesi yang besarnya satu kali lipat gaji pokok. Undang-Undang RI No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), Undang-Undang RI No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) dan Peraturan Pemerintah RI No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) menyatakan guru adalah pendidik professional. Untuk itu ia dipersyaratkan meiliki kualifikasi akademik minimal Sarjana/Diploma IV (S1/D4) yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran.

Pemenuhan persyaratan kualifikasi akademik minimal S1/D4 dibuktikan dengan ijazah dan persyaratan relevansi mengacu pada jenjang pendidikan yang dimiliki dan mata pelajaran yang dibina. Misalnya, guru SD dipersyaratkan lulusan S1/D4 Jurusan/Program studi PGSD/Psikologi/Pendidikan dan lainnya, sedangkan guru matematika SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK dipersyaratkan lulusan S1/D4 Jurusan/Program studi matematika atau Pendidikan Matematika. Pemenuhan persyaratan penguasaan kompetensi sebagai agen pembelajaran yang meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogis, kompetensi professional dan kompetensi social dibuktikan dengan sertifikasi pendidik.

 

B.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Seberapa pentingnya peningkatan profesionalisme guru?
  2. Bagaimana peranan kompetensi professional guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran?
  3. Apa saja masalah pengembangan professional guru?
  4. Apa saja pengaruh kompetensi professional terhadap kualitas belajar siswa?

C.   Tujuan dan Kegunaan Penulisan

  • Tujuan penulisan
  1. Untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Profesi Kependidikan.
  2. Untuk memahami pentingnya peningkatan profesionalisme guru dan peranan kompetensi profesional guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
  3. Untuk menjelaskan masalah pengembangan professional guru dan pengaruh kompetensi professional terhadap kualitas belajar siswa.
  • Kegunaan penulisan
  1. Diharapkan hasil penulisan ini menjadi bahan masukan bagi kegiatan perkuliahan.
  2. Diharapkan hasil penulisan  ini mampu memberikan gambar mengenai profesionalisme guru yakni masalah dan upaya pengembangannya.
  3. Diharapkan penulisan ini dapat menjadi masukan bagi penulisan selanjutnya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.   Kompetensi Guru Profesional

Kompetensi merupakan kebulatan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk kerja. Kepmendiknas No. 045/U/2002 menyebutkan kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu. Jadi kompetensi guru dapat dimaknai sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran.

Profesionalisme guru adalah kemampuan guru untuk melakukan tugas pokoknya sebagai pendidik dan pengajar meliputi kemampuan merencanakan, melakukan, dan melaksanakan evaluasi pembelajaran. Pada prinsipnya setiap guru harus disupervisi secara periodik dalam melaksanakan tugasnya. Jika jumlah guru cukup banyak, maka kepala sekolah dapat meminta bantuan wakilnya atau guru senior untuk melakukan supervisi. Keberhasilan kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh meningkatnya kinerja guru yang ditandai dengan kesadaran dan keterampilan melaksanakan tugas secara bertanggung jawab.

UUGD dan PP No. 19/2005 menyatakan kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, pedagogis, professional, dan social (Wicoyo, 2007; Direktorat Ketenagaan Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas, 2006). Keempat jenis kompetensi guru beserta subkompetensi dan indicator esensialnya diuraikan sebagai berikut :

 

Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan bijaksana, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Secara rinci subkompetensi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :

1)     Subkompetensi kepribadian yang mantap dan stabil memiliki indicator esensial : bertindak sesuai norma hukum; bertindak sesuai norma social, bangga sebagai guru; dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.

2)     Subkompetensi kepribadian yang dewasa memiliki indicator esensial : menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru.

3)     Subkompetensi kepribadian yang arif dan bijaksana memiliki indicator esensial : menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.

4)     Subkompetensi kepribadian yang berwibawa memiliki indicator esensial : memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.

5)     Subkompetensi akhlak mulia dan dapat menjadi teladan memiliki indicator esensial : bertindak sesuai dengan norma religious (iman dan takwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

 

Kompetensi Pedagogis

Kompetensi pedagogis meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi berbagai potensi yang dimilikinya. Secara rinci setiap subkomponen dijabarkan menjadi indicator esensial sebagai berikut :

1)     Subkompetensi memahami peserta didik secara mendalam memiliki indicator esensial : memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif; memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian; dan mengidentifikasi bekal-ajar peserta didik.

2)     Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : memahami landasan kependidikan; menerapkan teori belajar dan pembelajaran; menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar; serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.

3)     Subkompetensi melaksanakan pembelajaran memiliki indicator esensial : menata latar (setting) pembelajaran; dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.

4)     Subkompetensi merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran memiliki indicator esensial : merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode, menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery learning); dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.

5)     Subkompetensi mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasi berbagai potensinya, memiliki indicator esensial : memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik; dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi non-akademik.

 

Kompetensi Profesional

Kompetensi professional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya. setiap subkompetensi tersebut memiliki indiindicatornsial sebagai berikut :

1)     Subkompetensi menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi memiliki indicator esensial : memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar; memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.

2)     Subkompetensi menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki indicator esensial : menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan/materi bidang studi.

Kompetensi Sosial

Kompetensi social merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi ini memiliki subkompetensi dengan indicator esensial sebagai berikut :

1)     Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.

2)     Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan.

3)     Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

Perlu dijelaskan bahwa sebenarnya keempat kompetensi  (kepribadian, pedagogis, professional, dan social) tersebut dalam praktiknya merupakan satu kesatuan yang utuh. Pemilahan tersebut semata-mata untuk kemudahan memahaminya. Beberapa ahli mengatakan istilah kompetensi professional sebenarnya merupakan “payung”, karena telah mencakup semua kompetensi lainnya. Penguasaan materi ajar secara luas dan mendalam lebih tepat disebut dengan penguasaan bahan ajar (disciplinary content) atau sering disebut bidang studi keahlian. Hal ini mengacu pandangan yang menyebutkan bahwa sebagai guru yang berkompeten memiliki :

  1. Pemahaman terhadap karakteristik peserta didik
  2. Penguasaan bidang studi, baik dari sisi keilmuan maupun kependidikan
  3. Kemampuan penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik
  4. Kemauan dan kemampuan mengembangkan profesionalitas dan kepribadian secara berkelanjutan.

Menurut Suryasubroto (2002) tugas guru dalam proses pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam tiga kegiatan yaitu :

a)      menyusun program pengajaran seperti program tahunan pelaksanaan kurikulum, program semester/catur wulan, program satuan pengajaran,

b)      menyajikan/melaksanakan pengajaran seperti menyampaikan materi, menggunakan metode mengajar, menggunakan media /sumber, mengelola kelas/mengelola interaksi belajar mengajar,

c)      melaksanakan evaluasi belajar: menganalisis hasil evaluasi belajar, melaporkan hasil evaluasi belajar, dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan.

Secara umum, baik sebagai pekerjaan ataupun sebagai profesi, guru selalu disebut sebagai salah satu komponen utama pendidikan yang amat penting (Suparlan, 2006). Guru, siswa, dan kurikulum merupakan tiga komponen utama dalam sistem pendidikan nasional. Ketiga komponen pendidikan itu merupakan condition sine quanon´ atau syarat mutlak dalam proses pendidikan di sekolah.

Melalui mediator guru atau pendidik, siswa dapat memperoleh menu sajian bahan ajar yang diolah dalam kurikulum nasional ataupun dalam kurikulum muatan lokal. Guru adalah seseorang yang memiliki tugas sebagai fasilitator agar siswa dapat belajar dan atau mengembangkan potensi dasar dan kemampuannya secara optimal, melalui lembaga pendidikan di sekolah, baik yang didirikan oleh pemerintah maupun masyarakat atau swasta.

Dengan demikian, dalam pandangan umum pendidik tidak hanya dikenal sebagai guru, pengajar, pelatih, dan pembimbing tetapi juga sebagai social agent hired by society to help facilitate member of society who attend schools (Cooper,1986).

Ke depan tuntutan meningkatkan kualitas guru yang profesional lagi hangat dibicarakan dan diupayakan oleh pemerintah sekarang. Guru profesional bukan lagi merupakan sosok yang berfungsi sebagai robot, tetapi merupakan dinamisator yang mengantar potensi-potensi peserta didik ke arah kerativitas. Tugas seorang guru profesional meliputi tiga bidang utama :

(1) dalam bidang profesi,

(2) dalam bidang kemanusiaan, dan

(3) dalam bidang kemasyarakatan (Isjoni, 2006).

B.    Masalah Pengembangan Profesional Guru

Bertolak dari prinsip atau persyaratan profesi guru dapat diidentifikasikan berbagai masalah ( Abimanyu, 2008), sebagai berikut :

seberapa banyak guru kita yang menjadi guru karena bakat, minat, panggilan jiwa dan idealism? Pertanyaan ini sukar dijawab, diperlukan penelitian intensif untuk menjawabnya. Namun, kita dapat mengamati dari berbagai peristiwa, seperti input mahasiswa yang masuk LPTK umumnya mereka yang gagal masuk jurusan ilmu murni, siswa yang prestasinya bagus umumnya tidak mau masuk LPTK, mahasiswa yang masuk LPTK umumnya berasal dari daerah dan jarang barasal dari kota. Mungkin ini ada kaitannya dengan gaji guru yang rendah, sebab setelah UUGD diundangkan peminat calon mahasiswa masuk LPTK makin banyak. Persoalannya adalah bagaimana caranya agar kita memperoleh mahasiswa calon guru yang berbakat, berminat, merasa terpanggil dan mempunyai idealism menjadi guru yang tinggi.

Seberapa tinggi komitmen guru-guru kita untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia? Umumnya komitmen mereka cukup tinggi. Kalau ada guru yang komitmennya bertentangan dengan komitmen guru pada umumnya, hal ini hanya bersifat kasus saja.

Masih adakah guru-guru kita yang kualifikasi akademiknya belum S1 atau sarjana, dan latar pendidikannya tidak sesuai dengan bidang tugasnya? Pengamatan sementara menunjukkan bahwa masih banyak guru SD yang belum berijazah S1 bahkan masih ada yang belum berijazah D2. Di jenjang SMP dan SMA, guru yang belum berijazah S1 masih ada tetapi jumlahnya tidak sebanyak guru SD. Sebaliknya di SMP dan SMA masih banyak guru yang mengajarakan mata pelajaran yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Hal ini umumnya karena kurangnya jumlah guru mata pelajaran disuatu wilayah atau sekolah yang pendidikannya sesuai mata pelajaran yang diajarkan.

Masih adakan guru kita yang kompetensi tidak sesuai dengan bidang tugasnya? Kompetensi guru yang dimaksud adalah kompetensi pedagogis, kepribadian, professional,dan social. Jawabannya adalah masih ada walaupun jumlahnya tidak banyak. Namun demikian, di tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) jumlah guru yang belum memiliki kompetensi itu masih banyak. Hal ini disebabkan oleh makin sadarnya masyarakat akan pentingnya pendidikan prasekolah sehingga masyarakat banyak memasukkan anaknya ke TK. Sebaliknya, jumlah LPTK penyelenggara pendidikan guru TK masih terbatas, sehingga guru TK yang kompeten juga masih kurang.

Adakah guru yang tidak memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalannya? Diperkirakan masih ada guru yang kurang bertanggung jawab tas tugasnya, walaupun jumlahnya tidak banyak. Mereka itu antara lain : sering pulang lebih cepat atau dating terlambat, tidak mengembalikan PR siswa, tidak membuat persiapan mengajar, dan sebagainya.

Apakah guru kita memperoleh penghasilan sesuai dengan prestasi kerjanya? Hal yang penting lagi adalah apakah penghasilan itu cukup untuk membiayai hidupnya? Janji UUGD, Pasal 15 Ayat (1) yang akan memberikan penghasilan bagi guru professional yang mencakup gaji pokok, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan tambahan yang terikat dengan tugasnya sebagai guru harus benar-benar ditepati.

Seberapa jauh guru kita telah memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalannya secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat? Kesempatan itu baru mulai terbuka lebar setelah UUGD diberlakukan, setidaknya bagi guru-guru SD. Hal ini disebabkan oleh berbagai variable yang memengaruhi, seperti : pembiayaan, kesempatan, kebijakan, minat dan motivasi, system penghargaan (reward) dan teknologi pembelajaran yang dapat digunakan untuk belajar sepanjang hayat.

Apakah guru telah memiliki jaminan perlindungan hukum dalam menjalankan tugas keprofesionalannya? Pasal 41, 42, 43 dan 44 UUGD telah menjanjikan adanya jaminan perlindungan hukum melalui organisasi profesi dengan kode etiknya. Namun, sampai dimana efektifitasnya badan hukum itu dalam menjalankan tugas dan peranannya masih perlu terus ditingkatkan.

Seberapa jauh peranan organisasi profesi guru (PGRI) dapat mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru? Hingga saat ini peran PGRI yang menonjol masih dalam bidang politik dan organisatoris. Hal ini terbukti dari banyaknya wakil PGRI di DPR dan MPR, sedangkan peranannya dalam misi profesi kiprahnya belum tampak nyata dan belum terlalu melembaga.

Profesi dan Profesionalisasi Keguruan

Guru sebagai profesi perlu diiringi dengan pemberlakuan aturan profesi keguruan, sehingga akan ada keseimbangan antara hak dan kewajiban bagi seseorang yang berprofesi guru, antara lain: Indonesia memerlukan guru yang bukan hanya disebut guru, melainkan guru yang profesional terhadap profesinya sebagai guru. Aturan profesi keguruan berasal dari dua kata dasar profesi dan bidang spesifik guru/keguruan.

Secara logik, setiap usaha pengembangan profesi (professionalization) harus bertolak dari konstruk profesi, untuk kemudian bergerak ke arah substansi spesifik bidangnya. Diletakkan dalam konteks pengembangan profesionalisme keguruan, maka setiap pembahasan konstruk profesi harus diikuti dengan penemukenalan muatan spesifik bidang keguruan. Lebih khusus lagi, penemukenalan muatan didasarkan pada khalayak sasaran profesi tersebut. Karena itu, pengembangan profesionalisme guru sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah akan menyentuh persoalan: (1) sosok profesional secara umum, (2) sosok profesional guru secara umum, dan (3) sosok profesional guru sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah.

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Tak diragukan, guru merupakan pekerjaan dan sudah menjadi sumber penghasilan bagi begitu banyak orang, serta memerlukan keahlian berstandar mutu atau norma tertentu. Secara teoretik, ini sejalan dengan syarat pertama profesi menurut Ritzer (1972), yakni pengetahuan teoretik (theoretical knowledge). Guru memang bukan sekedar pekerjaan atau mata pencaharian yang membutuhkan ketrampilan teknis, tetapi juga pengetahuan teoretik. Sekedar contoh, siapa pun bisa trampil melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK), tetapi hanya seorang dokter yang bisa mengakui dan diakui memiliki pemahaman teoretik tentang kesehatan dan penyakit manusia.

Pun demikian dengan pekerjaan keguruan. Siapa saja bisa trampil mengajar orang lain, tetapi hanya mereka yang berbekal pendidikan profesional keguruan yang bisa menegaskan dirinya memiliki pemahaman teoretik bidang keahlian kependidikan. Kualifikasi pendidikan ini hanya bisa diperoleh melalui pendidikan formal bidang dan jenjang tertentu.

Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi pedagogik menunjuk pada kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi kepribadian menunjuk pada kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Kompetensi profesional menunjuk pada kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Kompetensi sosial menunjuk kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Tampaknya, Kendati syarat kualifikasi pendidikan terpenuhi, tak berarti dengan sendirinya seseorang bisa bekerja profesional, sebab juga harus ada cukup bukti bahwa dia memiliki keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu. Karena itu, belakangan ditetapkan bahwa sertifikasi pendidik merupakan pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional.

Syarat kedua profesi adalah pemberlakuan pelatihan dan praktik yang diatur secara mandiri (self-regulated training and practice). Kalau kebanyakan orang bekerja di bawah pengawasan ketat atasan, tak demikian dengan profesi. Pekerjaan profesional menikmati derajat otonomi tinggi, yang bahkan cenderung bekerja secara mandiri. Sejumlah pelatihan profesional masih diperlukan dan diselenggarakan oleh asosiasi profesi. Gelar formal dan berbagai bentuk sertifikasi dipersyaratkan untuk berpraktik profesional. Bahkan, pada sejumlah profesi yang cukup mapan, lobi-lobi politik asosiasi profesi ini bisa memberikan saksi hukum terhadap mereka yang melakukan praktik tanpa sertifikasi terkait.

Bila tolak-ukur ini dikenakan pada pekerjaan keguruan, jelas kemantapan guru sebagai profesi belum sampai tahapan ini. Banyak guru masih bekerja dalam pengawasan ketat para atasan serta tidak memiliki derajat otonomi dan kemandirian sebagaimana layaknya profesi. Pun nyaris tanpa sanksi bagi siapa saja yang berpraktik keguruan meskipun tanpa sertifikasi kependidikan. Sistem konvensional teramat jelas tidak mendukung pemantapan profesi keguruan. Keputusan penilaian seorang guru bidang studi, misalnya, sama sekali tidak bersifat final karena untuk menentukan kelulusan, atau kenaikan kelas, masih ada rapat dewan guru. Tak jarang, dalam rapat demikian, seorang guru bidang studi harus “mengubah” nilai yang telah ditetapkan agar sesuai dengan keputusan rapat dewan guru.

Dalam konteks otoritas profesional tersebut, tampak berbeda antara otonomi profesi dosen dengan otonomi profesi guru. Dengan sistem kredit semester, seorang dosen bisa membuat keputusan profesional secara mandiri dan bertanggung-jawab. Keputusan seorang dosen profesional memiliki bobot mengikat sebagaimana keputusan seorang dokter untuk memberikan atau tidak memberikan obat tertentu. Tak sesiapa pun, termasuk Ketua Jurusan, Dekan, dan bahkan Rektor, yang bisa melakukan intervensi langsung terhadap penilaian yang telah dilakukan oleh seorang dosen terhadap mahasiswanya. Tentu saja, di balik otoritas demikian, juga dituntut adanya tanggung-jawab dan keberanian moral seorang tenaga profesional.

Guru bukan pedagang. Itu jelas, karena seorang pedagang yang baik hanya punya satu dorongan, yaitu memuaskan pelanggan agar mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Prinsip pembeli adalah raja, tidak berlaku dalam pekerjaan profesional keguruan. Ini terkait dengan syarat profesi ketiga, yaitu: kewenangan atas klien (authority over clients).

Karena memiliki pendidikan formal dan nonformal ekstensif, para profesional mengakui dan diakui memilik pengetahuan yang tak sesiapa pun di luar profesi yang bersangkutan dapat memahami secara penuh pengetahuan tersebut. Karena pengakuan demikian, maka seorang profesional melakukan sendiri proses asesmen kebutuhan, diagnosis masalah, hingga pengambilan tindakan yang diperlukan beserta tanggung-jawab moral dan hukumnya. Seperti seorang dokter yang tidak bisa didikte oleh seorang pasien untuk memberikan jenis perlakuan dan obat apa, demikian pula tak seorang peserta didik atau bahkan orangtua mereka yang berhak mendikte materi, metode dan penilaian seorang guru.

Guru profesional tidak boleh terombang-ambing oleh selera masyarakat, karena tugas guru membantu dan membuat peserta didik belajar. Perlu diingat, seorang guru atau dosen memang tidak diharamkan untuk menyenangkan peserta didik dan mungkin orangtua mereka. Namun demikian, tetap harus diingat bahwa tugas profesional seorang pendidik adalah membantu peserta didik belajar (to help the others learn), yang bahkan terlepas dari persoalan apakah mereka suka atau tidak suka.

Syarat terakhir, pekerjaan profesional juga ditandai oleh orientasinya yang lebih kepada masyarakat daripada kepada pamrih pribadi (community rather than self-interest orientation). Pekerjaan profesional juga dicirikan oleh semangat pengutamaan orang lain (altruism) dan kemanfaatan bagi seluruh masyarakat ketimbang dorongan untuk memperkaya diri pribadi. Walaupun secara praktik boleh saja menikmati penghasilan tinggi, bobot cinta altruistik profesi memungkinkan diperolehnya pula prestise sosial tinggi.

Adapun karakteristik profesional minimum guru, berdasarkan sintesis temuan-temuan penelitian, telah dikenal karakteristik profesional minimum seorang guru, yaitu: (1) mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya, (2) menguasai secara mendalam bahan belajar atau mata pelajaran serta cara pembelajarannya, (3) bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi, (4) mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya, dan (5) menjadi partisipan aktif masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.

Secara substantif, sejumlah karakteristik tersebut sudah terakomodasi dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Beberapa di antaranya adalah: (1) menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual, (2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, (3) mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu, (4) menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik, (5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik, dan (6) memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

Mencermati sejumlah materi sajian dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan guru dalam jabatan ini, tampak jelas bahwa penekanan yang diberikan pada aspek kompetensi, sedangkan aspek-aspek lain dari penguatan profesi belum cukup tampak dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan ini. Karena itu, saya berharap agar sejumlah aspek yang masih tercecer bisa diagendakan di luar kurikulum tertulis (written curriculum), agar sosok profesional guru madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar yang dihasilkan merupakan sosok profesional yang utuh.

Akhirnya, memang masih cukup panjang dan berliku jalan untuk menegakkan profesi keguruan. Selain keharusan untuk menuntaskan persyaratan kualifikasi, kompetensi dan sertifikasi, masih ada tantangan yang lebih berdimensi legal dan moral. Namun demikian, satu atau dua langkah sudah berhasil dilakukan. Kalau dari perspektif kemauan politik sudah pengakuan terhadap profesi guru dan dosen sudah diundangkan, maka dari perspektif guru sendiri juga harus ada usaha untuk senantiasa memantapkan profesinya.

Kalau transformasi organisasi profesi berhasil dilakukan, maka letak kendali (locus of control) profesi keguruan, seperti kewenangan sertifikasi, evaluasi dan pemberian sanksi, juga bergeser dari ranah politik pemerintah ke ranah profesi keguruan. Karena pergeseran letak kendali dari pemerintah ke organisasi profesi menyangkut kewenangan dan sumberdaya untuk sertifikasi, akreditasi, dan evaluasi, maka persoalan menjadi sangat berdimensi politik serta sarat dengan konflik kepentingan.

Dari perspektif struktur kekuasaan, mungkinkah para pejabat birokrasi pendidikan yang masih berkecenderungan senantiasa memperluas bidang kekuasaan, merelakan terjadinya redefinisi kekuasaan menjadi lebih terbatas? Atau, bisakah watak birokrasi pendidikan kita yang senantiasa ingin memusatkan kekuasaan pada sekelompok kecil orang, diubah agar terjadi redistribusi kekuasaan kepada masyarakat sipil seperti organisasi profesi keguruan?

Dari perspektif kultur masyarakat, bisakah kita mengubah mentalitas masyarakat berorientasi serba-negara (state-oriented society) ini menjadi masyarakat yang berorientasi pada jasa nyata dan prestasi (merit and achievement-oriented society)? Beranikah para guru mengambil-alih kembali (reclaiming) sebagian kewenangan yang sudah cukup lama kita serahkan kepada negara dan atau pemerintah?

Bila jawaban positif kita berikan, maka sudah saatnya kita menyiapkan kata perpisahan kepada sertifikasi, akreditasi, dan evaluasi oleh pemerintah. Sudah saatnya organisasi profesi keguruan melakukan sertifikasi profesi keguruan. Sudah saatnya akreditasi sekolah dan perguruan tinggi dilakukan oleh lembaga independen. Sudah saatnya pula pelaksanaan dan keputusan hasil evaluasi peserta didik dilakukan oleh para pendidik profesional.

C.   Pembinaan Guru sebagai Tenaga Profesional

penerimaan mahasiswa calon guru di LPTK dan penerimaan guru CPNS perlu menggunakan alat seleksi yang memungkinkan diperolehnya mahasiswa atau guru baru yang berbakat, berminat, terpanggil jiwanya dan beridealisme.

Pengembangan kompetensi kepribadian dan social

Semasa prajabatan

a)      Tugas guru bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik.

b)      Guru hendaknya menjadi model bagi siswanya dalam keimanan,ketakwaan, dalam akhlak mulia, tanggung jawab dan kesungguhannya meningkatkan kualitas hasil pendidikan.

c)      Tata tertib dan peraturan yang ada harus dilaksanakan secara konsekuen.

d)      Dilatih dan dibiasakan bekerja sama secara kelompok untuk menyelesaikan tugas baik dikampus maupun diluar kampus.

Semasa dalam jabatan

a)      Kegiatan pembinaan iman dan ketakwaan serta akhlak mulia harus terus diselenggarakan dalam kehidupan keseharian, di sekolah maupun di luar sekolah.

b)      Peraturan dan tata tertib harus ditegakkan secara bertanggung jawab.

c)      Kepala sekolah harus menjadi model moral dan kepribadian dari guru-guru dan guru harus menjadi model bagi siswa-siswanya.

d)      Aspek-aspek berikut hendaknya menjadi tujuan, isi dan saran penilaian pembinaan kompetensi kepribadian dan social :

  • Kedisiplinan (ketaatan mengikuti tata tertib),
  • Penampilan (kerapian dan kewajaran),
  • Kesntunan berperilaku,
  • Kemampuan kerja sama,
  • Kemampuan berkomunikasi,
  • Komitmen,
  • Keteladanan,
  • Semangat,
  • Empati, dan
  • Tanggung jawab.

Pengembangan kompetensi pedagogis dan professional

1)     Memberi kesempatan bagi guru yang belum berijazah S1 untuk melanjutkan jenjang program S1, baik melalui program regular tatap muka maupun pembelajaran jarak jauh.

2)     Memberi kesempatan guru mengiuti pelatihan dan seminar tentang pedadogis maupun professional, baik yang diselenggarakan oleh institusi pendidikan maupun organisasi kemasyarakatan.

3)     Melakukan penelitian, termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan kinerja mereka sendiri, baik atas inisiatif sendiri maupun berkolaborasi dengan teman guru bidang studi, atau dosen perguruan tinggi. Untuk dapat melaksanakan PTK, guru perlu menguasai metodologi penelitian tindakan kelas. Untuk itu perlu dilakukan pelatihan tentang penelitian tindakan kelas.

4)     LPTK sebagai lembaga pendidikan penghasil guru dan dan tenaga kependidikan harus memberi kesempatan kepada guru untuk mengembangkan kompetensi pedagogis dan profesionalnya secara berkala mengadakan pelatihan-pelatihan, seminar, diskusi ilmiah, dan sebagainya.

BAB III

PENUTUP

A.   Kesimpulan

Guru profesional seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, selain terampil mengajar, seorang guru juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik. Mereka harus :

  1. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme,
  2. memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugasnya,
  3. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya.
  4. Di samping itu, mereka juga harus mematuhi kode etik profesi,
  5. memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas,
  6. memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya,
  7. memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan,
  8. memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya, dan
  9. memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum (sumber UU tentang Guru dan Dosen).

Di lapangan banyak di antara guru mengajarkan mata pelajaran yang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang dimilikinya. Tidak memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas. Guru profesional seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, seorang guru selain terampil mengajar, juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik. Hal itu terindikasi dengan minimnya kesempatan beasiswa yang diberikan kepada guru dan tidak adanya program pencerdasan guru, misalnya dengan adanya tunjangan buku referensi, pelatihan berkala, dsb. Profesionalisme dalam pendidikan perlu dimaknai he does his job well. Artinya, guru haruslah orang yang memiliki insting pendidik, paling tidak mengerti dan memahami peserta didik. Guru harus menguasai secara mendalam minimal satu bidang keilmuan. Guru harus memiliki sikap integritas profesional. Dengan integritas barulah, sang guru menjadi teladan atau role model. Menyadari banyaknya guru yang belum memenuhi kriteria profesional, guru dan penanggung jawab pendidikan harus mengambil langkah. Salah satu tujuan pendidikan klasik (Yunani-Romawi) adalah menjadikan manusia makin menjadi “penganggur terhormat”, dalam arti semakin memiliki banyak waktu luang untuk mempertajam intelektualitas (mind) dan kepribadian (personal). Peningkatan kesejahteraan. Agar seorang guru bermartabat dan mampu “membangun” manusia muda dengan penuh percaya diri, guru harus memiliki kesejahteraan yang cukup.

B.    Saran

Saran yang dapat diberikan dari hasil penulisan ini adalah sebagai berikut:

  1. Perlu adanya pembeberan secara lebih detail lagi mengenai “ Profesionalisme Guru : Masalah & Pengembangannya “, baik itu melalui buku bacaan atau media lainnya sehingga untuk mengkaji lebih dalam bisa semakin mudah.
  2. Perlu adanya perhatian dan penambahan mengenai sumber-sumber referensi yang dibutuhkan, karena dirasakan sumber dari penulisan ini masih sangat minim.

SUMBER :

Thalib, Bachri Syamsul. (2010). Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif . Jakarta : Kencana.

http://id.shvoong.com/social-sciences/1785829-upaya-meningkatkan-profesionalisme-guru/

http://www.alfurqon.or.id/component/content/article/64-guru/343-profesionalisme-guru

http://mudjiarahardjo.com/artikel/136-pengembangan-profesionalisme-guru-2.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

By nananksynarahim Posted in edukasi

Kecerdasan Majemuk (Multiple Inteligences)

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Banyaknya keluhan baik dari anak didik, orang tua, maupun pendidik tentang bagaimana agar anak didik dapat menerima pelajaran dengan baik mendorong dilakukannya penelitian untuk melihat factor-faktor yang membuat anak didik dapat menerima pelajaran dengan baik. Salah satu temuan yang sangat bermanfaat adalah bahwa setiap individu memiliki tidak hanya satu jenis kecerdasan tetapi lebih, yang disebut multiple intelligences atau kecerdasan ganda.

Teori kecerdasan ganda (multiple intelligences) memndang kecerdasan tidak hanya berdasarkan kemampuan logika atau bahasa saja, namun memiliki kecerdasan-kecerdasan lain yang selama ini tidak menjadi perhatian. Kecerdasan tidak dilihat sebagai berhasil dengan baik mengerjakan tes atau mengingat sejumlah tugas tertentu, namun sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu yang berharga dalam lingkungannya. Hal ini terjadi karena seperti yang diungkapkan oleh Kuhn (1962) bahwa : (a) inteligensi bukanlah harga mati atau secara statis terberi saat lahir; (b) inteligensi dapat dipelajari, diajarkan, dan ditingkatkan; serta (c) inteligensi merupakan suatu fenomena yang bersifat multidimensional dan dapat muncul dalam berbagai tingkat dalam otak/pikiran/system kebutuhan kita.

Howard Gardner (1983)mengemukakan bahwa ada delapan jenis kecerdasan, yang terdiri dari aspek-aspek verbal-linguistik (verbal-linguistic Intelligence), kecerdasan logika matematika (logical mathematical intelligence), kecerdasan visual-spasial (spasial intelligence), kecerdasan gerak tubuh (bodily-kinesthetic intelligence), kecerdasan musical-berirama (musical-rythmic intelligence), kecerdasan antardiri (interpersonal intelligence), kecerdasan dalam-diri (interpersonal intelligence), dan kecerdasan alam-natural (naturalistic intelligence).

Sudut pandang seperti ini menimbulkan paradigma baru bagi para guru dalam pemahaman mengenai inteligensi manusia dan belajar sehingga titik sentral dalam belajar kemudian adalah memahami potensi anak.tidak ada anak yang bodoh atau pintar, yang ada adalah anak yang menonjol pada salah satu atau beberapa jenis kecerdasan. Setiap manusia memiliki cara yang khusus dalam dalam mengerti, memahami, dan belajar. Perbedaan-perbedaan yang terjadi ini harus dihargai jika kita ingin mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai bagaimana seorang anak belajar dalam arti kata luas dan menolong mereka mencapai keberhasilan di sekolah.

B.   Rumusan Masalah

  1. Apa itu kecerdasan ganda dan bagaimana dampaknya terhadap aktivitas belajar anak didik?
  2. Bagaimana lingkungan dapat mengembangkan kecerdasan ganda tersebut?
    C.  
    Tujuan dan kegunaan penulisan

Tujuannya adalah untuk memenuhi salah satu tugas yang di berikan. Adapun kegunaan yang diharapkan dalam penulisan ini antara lain :

  1. Dapat mengetahui apa itu kecerdasan ganda serta jenis-jenisnya.
  2. Dapat mengetahui cara meningkatkan kecerdasan anak didik melalui kegiatan pembelajaran.
  3. Dapat melengkapi tugas yang telah diberikan.

BAB II

PEMBAHASAN

A.  PENGERTIAN

Prof. Howard Gardner, seorang ahli psikologi kognitif dari Universitas Harvard, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan ganda (multiple intelligences) adalah kemampuan untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam satu latar belakang budaya tertentu. Artinya, setiap orang jika dihadapkan pada satu masalah, ia memiliki sejumlah kemampuan untuk memecahkan masalah yang berbeda sesuai dengan konteksnya. Kemampuan “memecahkan” masalah tidak hanya berkaitan dengan berhasil atau tidaknya menghitung perkalian, namun juga meliputi kemampuan membentuk suatu tim, kemampuan untuk mengatur anggota dalam kelompokguna bersama-sama memecahkan masalah yang sulit, dan lain-lain. Sementara itu “menciptakan suatu produk” meliputi kemampuan membentuk sesuatu dari lilin (tanah liat), menciptakan suatu bentuk tarian, dan sebagainya. Sedangkan “bernilai dalam satu latar belakang budaya tertentu” berkaitan dengan apa dampaknya bagi lingkungan, keuntungan yang dapat dipetik oleh orang lain. Misalnya, dapat dinikmati keindahannya, anggota tim dapat bekerja lebih sistematis.

Gardner memandang kecerdasan tidak semata-mata berdasarkan skor tertentu yang telah memiliki nilai standar melainkan berdasarkan ukuran kemampuan yang dikuasai oleh individu. Pendekatan ini mencoba memahami bagaimana pikiran individu dalam menjalankan kehidupan, baik yang berkaitan dengan benda-benda konkret maupun hal-hal yang bersifat abstrak sehingga bagi Gardner tidak ada anak yang bodoh atau pintar, yang ada hanyalah anak yang lebih menguasai satu bidang tertentu atau beberapa bidang lain. Oleh karena itu, bidang atau kecerdasan tertentu yang kurang dikuasai dapat distimulasi agar lebih terampil. Namun demikian, Gardner juga mempercayai bahwa setiap individu memiliki kecenderungan untuk cerdas pada satu bidang tertentu sehingga individu tidak memerlukan usaha yang susah payah untuk mengembangkannya. Berkaitan dengan hal tersebut maka Gardner mengembangkan suatu kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur apakah potensi yang dimiliki oleh seseorang memang merupakan suatu kecerdasan yang sesungguhnya.

B.   ASPEK-ASPEK KECERDASAN GANDA

Ada delapan jenis intelegensi yang dikemukakan oleh Howard Gardner, yaitu :

Inteligensi Bahasa (Linguistik)

Pengertian dan karakteristiknya

Inteligensi bahasa mengcakup kemampuan-kemampuan berpikir dengan kata-kata, seperti baik kemampuan untuk memahami dan merangkai kata dan kalimat baik lisan maupun tertulis. Karakteristiknya antara lain :

  1. Senang membaca buku atau apa saja, bercerita atau mendongeng.
  2. Senang berkomunikasi, berbicara, berdialog, berdiskusi, dan senang berbahasa asing.
  3. Pandai menghubungkan atau merangkai kata-kata tau kalimat baik lisan maupun tulisan.
  4. Pandai menafsirkan kata-kata tau paragraph baik secara lisan maupun tertulis.
  5. Senang mendengarkan music dan sebagainya dengan baik.
  6. Pandai mengingat dan menghafal.
  7. Humoris.

Mengasah bahasa

Sering kali orang beranggapan bahwa anak dapat dengan sendirinya berbicara dan berbahasa sehingga tidak perlu repot-repot mengajar mereka untuk bicara. Anggapan ini sebagian benar karena semua anak pasti akan melewati tahap meraban (babbling) meskipun dia adalah seorang anak tunarungu (sejauh organ bicara mereka tidak terganggu). Namun, hal ini tidak sepenuhnya benar. Jika tidak diasah terus-menerus maka keterampilan tersebut pada akhirnya tidak mengalami perkembangan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat mengasah bahasa anak antara lain :

–          Mengajak anak bicara ; Terus-menerus mengajak anak bicara merupakan langkah awal yang amat penting untuk mengembangkan kemampuan anak, apalagi jika sambil disertai contoh.

–          Membacakan cerita ; membacakan cerita atau dongeng bahkan membuat cerita sendiri mendorong anak untuk bereksperimen dengan kata-kata. Ia akan mencoba menggunakan kata-kata yang baru didengarnya dalam kehidupan sehari-hari.

–          Bermain peran ; dengan bermain peran sebagai seseorang yang pernah dialami anak maka “secara sengaja” kemampuan anak untuk menciptakan percakapan dan merangkai kalimat dimunculkan. Misalnya, peran sebagai guru-murid, pembeli-penjual, dan sebagainya.

–          Bernyanyi atau mendengarkan lagu anak-anak ; bernyanyilah bersama-sama dengan anak. Pada awalnya nyanikan lagu yang berkaitan dengan keadaan anak sehari-hari, misalnya lagu Dua Mata Saya, Cicak, Satu-satu, dan sebagainya. Kemudian, bisa pula diperkenalkan dengan lagu-lagu dari daerah lain di Indonesia atau bahasa lain yang sederhana.

–          Merangkai cerita ; beri anak kesempatan untuk menceritakan pengalaman yang telah dilakukan hari kemarin atau saat akan menuju sekolah memberi kesempatan pada anak untuk mengolah kata dan bahkan perasaannya. Apabila sudah mulai dapat menulis maka menuliskan pengalaman dalam dua atau tiga kalimat dapat pula dilakukan.

–          Berdiskusi ; topic sederhana yang ada dalam lingkungan atau yang dilakukan sehari-hari dapat menjadi bahan diskusi. Topic mengenai perasaan dapat juga dibahas untuk melatih kecerdasan emosi anak.

Inteligensi Logis-Matematis

Pengertian dan karakteristiknya

Inteligensi logis-matematis adalah kemampuan berpikr dalam penalaran atau menghitung, seperti kemampuan menelaah masalah secara logis, ilmiah, dan matematis. Karaktaristiknya antara lain :

  1. Senang bereksperimen, bertanya, menyusun atau merangkai teka-teki.
  2. Senang dan pandai berhitung dan bermain angka.
  3. Senang mengorganisasikan sesuatu, menyusun scenario.
  4. Mampu berpikir logis baik induktif maupun deduktif.
  5. Senang silogisme.
  6. Senang berpikir abstraksi dan simbolis.

mengasah logis-matematis

perkembangan kognitif menurut Piaget meliputi kemempuan seseorang untuk merasakan dan mengingat, serta membuat alas an dan berimajinasi. Perbedaan mendasar antara orang dewasa dengan anak-anak dalam proses pembelajaran adalah anak-anak dan terutama bayi tidak belajar berdasarkan pengalaman, observasi atau imitasi. Pertama kali bayi belajar melalui intuisi, kemudian mengalami proses menuju penguasaan keterampilan secra bertahap. Begitu seterusnya menuju keterampilan yang makin lama akan makin kompleks sejalan dengan perkembangan usianya. Agar perkembangan ini berjalan dengan optimal maka stimulasi perlu diberikan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Berikut beberapa kegiatan yang dapat mengasah kecerdasan logika-matematika anak.

–          Mengenal bentuk geometri ; kemampuan ini dapat dilakukan sejak masih bayi dengan menggantung berbagai macam bentuk. Pada anak usia 4 tahun pengenalan bentuk bisa dilakukan dengan mengelompokkan berdasarkan bentuk yang sama dengan berbagai ukuran dan warna, urutkan dari kecil ke besar.

–          Mengenal bilangan melalui bermain ; bermain tebak-tebakan dengan menghitung jumlah mainan, menebak penjumlahan dan pengurangan sederhana, serta menyanyiksn lagu-lagu yang berkaitan dengan bilangan akan membantu anak mengenal bilangan.

–          Menyelesaikan puzzle ; merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengasah kemampuan menggunakan logika. Selain itu kegiatan menelusuri jalan (maze) dapat pula dilakukan.

–          Pengenalan pola ; hubungan sebab akibat sebagai salah satu perkembangan dari kemampuan melihat pola dapat dikembangkan dengan mengajak anak melakukan pengamatan, misalnya mengamati bahwa air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, air selalu berubah bentuknya mengikuti bentuk wadah yang ditempati.

–          Eksperimen di alam ; melakukan pengamatan dengan anak di alam terbuka, misalnya mengamati mengamati jumlah kendaraan yang lalu lalang di halaman sekolah dan sampah apa saja yang tergeletak di sekitar sekolah, mengajak anak mengenali berbagai macam profesi, mengajak anak mengenali berbagai macam sayur.

Inteligensi Visual Spasial

Pengertian dan karakteristiknya

Inteligensi visual spasial, yaitu kemampuan berpikir dalam citra dan gambar. Seperti kemampuan untuk membayangkan bentuk suatu objek. Karakteristiknya antara lain :

  1. Senang merancang sketsa, gambar, desain grafik, table.
  2. Peka terhadap citra, warna, dan sebagainya.
  3. Pandai memvisualisasikan ide.
  4. Imaginasinya aktif.
  5. Mudah menemukan jalan dalam ruang.
  6. Mempunyai persepsi yang tepat dari berbagai sudut.
  7. Mengenal relasi benda-benda dalam ruang.

Mengasah kecerdasan visual-spasial

Anak dengan kecerdasan visual-spasial yang menonjol amat peka akan rangsang-rangsang yang bersifat visual sehingga dapat dirancang kegiatan yang menekankan pada hal tersebut. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

–          Membayangkan ; buatlah rangkaian gambar kemudian minta anak menceritakan apa yang sedang dilakukan oleh tokoh dalam gambar.

–          Menggambar ; salah satu kegiatan yang dapat dilakukan oleh anak sebagai salah satu cara merangsang kemampuan visual. Saat mereka menggambar maka hargailah apa yang telah dilakukan anak, jangan berikan kritik atau komentar yang menyakitkan, seperti “ Pisang apa nih, kok warnanya ungu? “. Komentar seperti ini dapat mematikan kreativitas anak da nada kemungkinan anak tidak mau mencoba kembali.

–          Membuat kerajinan tangan ; gunakan berbagai macam media, seperti kertas, sedotan, tali, cat, air, lem, bahan-bahan dari tumbuhan, seperti pelepah pisang, daun kering, dan sebagainya. Selain merangsang kreativitas,kerajinan tangan dapat pula meningkatakan rasa percaya diripada anak.

–          Mengatur dan merancang ; membuat kegiatan mengatur dan merancang di kelas, misalnya memilih ketua kelas secra bergantian, antri saat mencuci tangan, membereskan mainan bersama, menentukan kelompok siapa yang mendapatkan kesempatan untuk menyanyi terlebih dahulu, dan masih banyak lagi.

–          Bermain konstruktif atau bongkar pasang ; menciptakan berbagai permainan konstruktif dengan anak-anak, misalnya membentuk jembatan dan sambil bermain seperti ini dapat juga merangsang kreativitas anak dengan cara, misalnya menyusun cerita dengan tema jembatan.

Inteligensi musical

Pengertian dan karakteristiknya

Inteligensi musical adalah kemampuan berpikir dengan nada, irama, dan melodi juga pada suara alam. Karakteristiknya antara lain :

  1. Pandai mengubah atau mencipta music.
  2. Senang dan pandai bernyanyi.
  3. Pandai mengoperasikan music serta menjaga ritme.
  4. Mudah menangkap music.
  5. Peka terhadap suara dan music.

Mengasah kecerdasan musical

Berbagai studi membuktikan bahwa kecerdasan music memiliki keterkaitan yang erat dengan berbagai kecerdasan lainnya. Meskipun orang dengan kecerdasan music menonjol belum tentu akan menjadi seorang composer yang hebat, namun kecerdasan ini perlu diasah untuk menjaga keseimbangan perkembangan anak secara umum. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengasah kecerdasan music berirama adalah sebagai berikut :

–          Bernyanyi atau mendengarkan lagu (music) ; lagu-lagu sebelum tidur atau lantunan suara orang mengaji dapat memberikan efek menenangkan pada anak-anak yang rewel, apalagi bila disertai dengan dekapan yang hangat dan ayunan lembut.

–          Mengenal ritme dan melatih gerakan dengan irama ; pada usia 4-6 tahun ini anak sudah dapat mengikuti irama lagu dan mengenal naik turunnya nada lagu. Latihan mengenal ritme dapat dilakukan, misalnya dengan cara bertepuk tangan, memukul meja dengan ritme tertentu, memukul gendang, gerakan tari sederhana bersama-sama.

–          Bersenandung ; kegiatan bersenandung pada anak biasanya muncul saat mereka mengerjakan sesuatu dengan asyik, misalnya saat mewarnai gambar, mengamati binatang peliharaan.

–          Meniru suara-suara yang ada di alam ; saat anda sedang mengajarkan tentang hujan, misalnya mintalah anak untuk mengeksplorasi berbagai suara yang muncul berkaitan dengan akan terjadinya hujan atau saat sedang berlangsung hujan, seperti suara kilat, Guntur, air jatuh di genteng, air jatuh di atas seng.

Inteligensi Kinestetik Tubuh

Pengertian dan karakteristiknya

Inteligensi kinestetik tubuh, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan gerakan tubuh termasuk gerakan motoric otak yang mengendalikan tubuh seperti kemampuan untuk mengendalikan danmenggunakan badan dengan mudah dan cekatan. Karakteristiknya antara lain:

  1. Senang menari, acting.
  2. Pandai dan aktif dalam olahraga tertentu.
  3. Mudah berekspresi dengan tubuh.
  4. Mampu memainkan mimic.
  5. Koordinasi dan fleksibilitas tubuh tinggi.
  6. Senang dan efektif berpikir sambil berjalan, berlari, dan berolah raga.
  7. Pandai merakit sesuatu menjadi suatu produk.
  8. Senang bergerak atau tidak bisa diam dalam waktu yang lama.
  9. Senang kegiatan di luar rumah.

Mengasah kecerdasan kinestetik tubuh

Meskipun dalam kehidupan sehari-hari kita temui ada beberapa orang yang kurang beruntung dengan kondisi fisik  mereka, seperti anak yang mengalami cerebral palsy au tunanetra. Namun, dengan segala keterbatasan yang ada kita masih dapat memaksimalkan kemampuan mereka, apalgi bagi anak-anak yang tidak mengalami hambatan fisik. Beberapa contoh kegiatan berikut dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan kecerdasan kinestetik tubuh, antara lain :

–          Menari ; Menari disini tidak hanya melakukan gerakan tari baku, seperti tari lilin, paying. Namun, melakukan gerakan-gerakan dengan irama tertentu yang diiringi dengan music. Saat menari dituntut pula kemampuan lain, seperti memperhatikan, meniru gerakan, dan memadankan gerakan dengan music.

–          Bermain peran ; melalui kegiatan bermain peran anak akan menggerakkan tubuh sesuai dengan peran yang dimainkan, misalnya saat bermain peran sebagai guru maka anak akan memperlihatkan gerak tubuh, mimic wajah, dan suara, seperti guru.

–          Drama ; buatlah sebuah darama pendek yang di dalamnya tercakup berbagai factor yang saling terkait, misalnya ada gerak tubuh, ekspresi wajah, komunikasi antar pemegang peran, dan kemungkinan music pengiring.

–          Olahraga ; kegiatan olahraga, apakah itu dilakukan melalui klub olahraga ataupun kegiatan bersama yang dilakukan dengan guru dan orang tua, dapat melatih dan meningkatkan kemampuan gerak tubuh anak.

Inteligensi Intrapersonal

Pengertian dan karakteristiknya

Inteligensi intrapersonal adalah kemampuan berpikir untuk memahami diri sendiri, melakukan refleksi diri dan bermetakognisi. Karakteristiknya antara lain :

  1. Mampu menilai diri sendiri/introspeksi diri, bermeditasi.
  2. Mampu mencanangkan tujuan, menyusun cita-cita dan rencana hidup yang jelas.
  3. Berjiwa independent/bebas.
  4. Mudah berkonsentrasi.
  5. Keseimbangan diri.
  6. Senang mengekspresikan perasaan-perasaan yang berbeda.
  7. Sadar akan realitas spiritual.

Mengasah kecerdasan intrapersonal

Guna mengembangkan potensi dalam diri anak agar tumbuh dengan baik, maka lingkungan yang hangat, menumbuhkan rasa mampu (kebanggaan), dan menghargai hendaknya ditumbuhkan dengan subur. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

–          Membentuk citra diri yang positif ; apabila kita menampilkan kehangatan pada anak disertai dengan sikap tegas maka disisi lain hal tersebut juga menumbuhkan sikap menghargai, memberi perhatian, dan menerima anak apa adanya sehingga dipihak lain hal ini juga akan menjadi contoh nyata bagi anak untuk ditiru.

–          Menciptakan sarana untuk menuangkan isi hati ; memberikan “buku harian” di mana anak bisa menulis atau menggambar apa yang dirasakan adalah salah satu sarana yang dapat dilakukan, selain menyediakan diri menampung isi hati mereka.

–          Mengenali diri sendiri ; meluangkan waktu untuk bercakap-cakap dengan anak dan memberi mereka kesempatan mengemukakan perasaan-perasaan mereka, dapat membantu anak mengenali kekurangan dan kelebihan diri mereka sendiri. Ajukan pula pertanyaan-pertanyaan yang memberi anak kesempatan untuk melakukan evaluasi diri, misalnya apakah yang dilakukan pada hari itu, dan sebagainya.

–          Memberi kesempatan anak mengerjakan tugas sendiri ; pada anak dengan kecerdasan dalam diri yang kuat perlu pula diberi kesempatan untuk mengerjakan tugas sendiri sehingga ia dapat mengeluarkan perasaan, pikiran-pikiran, dan pandangan hidupnya secara khas. Anak, misalnya bisa diminta membuat puisi, surat atau lagu sendiri.

Inteligensi Interpersonal (Sosial)

Pengertian dan karakteristiknya

Inteligensi interpersonal adalah kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Karakteristiknya antara lain :

  1. Mampu berorganisasi, menjadi pemimpin dalam suatu organisasi.
  2. Mampu bersosialisasi, menjadi mediator, bermain dalam kelompok/klub, bekerja sama dalam tim.
  3. Senang permainan berkelompok daripada individual.
  4. Biasanya menjadi tempat mengadu orang lain.
  5. Senang berkomunikasi verbal dan nonverbal.
  6. Peka terhadap teman.
  7. Suka memberi feedback.
  8. Mudah mengenal dan membedakan perasaan dan pribadi orang lain.

Mengasah kecerdasan interpersonal

Dalam era globalisasi yang hiruk pikuk ini di mana kedua orang tua sering kali harus keluar dari rumah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka atau mengaktualisasi kemampuan mereka, baik itu di desa ataupun di kota. Maka, tidak dapat lagi dihindari bahwa mempertahankan hubungan yang hangat dan terus-menerus dengan anak merupakan suatu hal yang tidak mudah sehingga tentu saja perlu dibuat kegiatan yang dengan sengaja dilakukan guna mendorong meningkatkan kecerdasan antardiri ini. Beberapa kegitan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

–          Menumbuhkan sikap menghargai perbedaan ; apabila orang tua bersikap ramah, menghargai orang-orang yang berbeda baik dalam ras, agama, memperlakukan pembantu dengan manusiawi, tidak mengejek orang-orang dengan kecacatan fisik maka anak akan cenderung melakukan hal yang sama.

–          Membiasakan memberi umpan balik ; memberikan umpan balik berarti memberi tahu apa kelebihan dan kekurangan anak, bukan mengeritik atau memberi label negative. Berikan umpan balik langsung pada perilakunya, bukan berupa penilaian pribadi atas perbuatan atau kinerja anak.

–          Melakukan tugas dalam kelompok (dalam bentuk proyek) ; dalam tugas kelompok dituntut kerja sama dan tenggang rasa di antara anggota kelompok, misalnya anda bisa meminta anak melakukan pengamatan berapa jumlah mobil yang lewat di depan sekolah atau apa saja yang dilakukan oleh pesuruh sekolah.

–          Memberi kesempatan anak bertanggung jawab ; bertanggung jawab akan suatu tugas tertentu akan membantu membentuk perasaan mampu (kompeten) dalam diri anak. Berikanlah tugas secara bergiliran, tidak hanya pada satu orang tertentu saja, misalnya pilih ketua kelas, siapa yang membagikan buku, mengambil absen.

–          Menumbuhkan sikap empati ; ajaklah anak-anak untuk turut serta membantu orang-orang lain yang kurang beruntung dibandingkan dirinya, misalnya mintalah anak untuk memberikan buku bacaan yang sudah tidak mereka gunakan atau pakaian bekas layak pakai bagi korban banjir atau tanah longsor.

Inteligensi Naturalis

Pengertian dan karakteristiknya

Inteligensi naturalis adalah kemampuan untuk memahami gejala alam. Karakteristiknya antara lain :

  1. Senang terhadap flora dan fauna, bertani, berkebun, memelihara binatang, berinteraksi dengan binatang, berburu.
  2. Pandai melihat perubahan alam, meramal cuaca, meneliti tanaman.
  3. Senang kegiatan di alam terbuka.

Mengasah kecerdasan naturalis

Seperti juga kecerdasan-kecerdasan yang lain, agar kemampuan anak tumbuh maka tentu saja diperlukan adanya berbagai rangsangan yang tepat. Beberapa kegatan yang diharapkan dapat mendorong berkembangnya kecerdasan tersebut adalah sebagai berikut :

–          Mengamati binatang ; ajaklah anak memelihara binatang,misalnya ikan kecil dalam botol dan bersama-sama mengamati perilaku ikan tersebut. Bisa juga mengajak anak pergi ke kebun binatang dan mengenali berbagai macam binatang yang ada, apa makanan mereka, dari mana asalnya.

–          Mengamati tumbuhan ; ajaklah anak membuat proyek bersama-sama, misalnya membuat herbarium atau mengamati pertumbuhan tanaman dari biji hingga tumbuh. Mulailah dari yang pertumbuhannya cepat dan mudah diamati, misalnya kacang hijau yang diletakkan di atas kapas basah pada beberapa wadah.

–          Mengamati perubahan alam ; duduk di alam terbuka dan menikmati angina bergerak dengan mengamati gerakannya pada dedaunan atau rambut, melihat perbedaan ketika cuaca cerah dan hujan, mengamati awan yang berganti-ganti bentuk, dan lain-lain dapat mengasah kecerdasan alam-natural anak.

–          Mengamati hasil budaya ; pergi ke museum atau tempat-tempat lain di mana hasil karya diperlihatkan dapat membantu anak mengembangkan kemampuan alam-natural.

Tabel berikut (Tabel. 1.) menggambarkan tentang kecenderungan dan kegemaran dan  perilaku yang dapat dimati dan metode belajar yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan masing-masing kecerdasan.

JENIS KECERDASAN

KECENDERUNGAN /

KEGEMARAN

METODE BELAJAR

Bahasa / Verbal Gemar :–          membaca-          Menulis

–          Bercerita

–          Bermain kata

Membaca, menulis, mendengar
Matematis Logis Gemar :–          bereksperimen-          tanya jawab

–          menjawawab teka-teki

logis

Berhitung, aplikasi rumus, eksperimen
Spasial Gemar :–          Mendesain-          Menggambar

–          Berimajinasi

–          Membuat sketsa

Observasi, menggambar, mewarnai, membuat peta
Kinestetik tubuh Gemar :–          menari-          berlari

–          melompat

–          meraba

–          memberi isyarat

Membangun, mempraktekan. menari, ekspresi
Musikal Gemar :–          bernyanyi-          bersiul

–          bersenandung

Menyanyi, menghayati lagu, mamainkan instrumen musik
Interpersonal Gemar :–          memimpin-          berorganisasi

–          bergaul

–          menjadi mediator

Kerjasama dan interaksi dengan orang lain
Intrapersonal Gemar : –          menyusun tujuan-          meditasi

–          imajinasi

–          membuat rencana

–          merenung

Berfikir filosofi, analitis, berfikir reflektif
Naturalis Gemar :–          bermain dengan flora fauna-          mengamati alam

–          menjaga lingkungan

Observasi alamdan mengidentifikasi karakteristik flora dan fauna

Dalam kehidupan nyata sehari-hari akan kita temui anak-anak yang menonjol dalam satu bidang, misalnya amat lincah melompat dan berlari, namun kurang bisa memainkan alat music dan tidak begitu tertarik dengan seni atau anak yang amat mudah membina hubungan dengan orang-orang yang baru ditemui dan memulai suatu pembicaraan yang serius atau seorang anak yang amat gemar mengamati lingkungan dan fenomena alam serta terampil dalam hitung-menghitung dan lain sebagainya.

Menghadapi anak dengan kemampuan yang amat beragam orang tua dan lingkungan sekitar termasuk guru di dalamnya dituntut untuk menyikapi dengan positif dan mengembangkan potensi yang berbeda tersebut. Tentunya diperlukan stimulasi atau rangsangan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing anak sehingga perlu dikembangkan berbagai kegiatan yang sesuai.

Namun, perlu diingat bahwa pendekatan kecerdasan ganda (multiple intelligences) bertujuan membantu orang tua atau guru mengenali kekuatan dan kelemahan anak, tetapi janganlah cepat-cepat membuat kesimpulan bahwa anak cocok, misalnya menjadi seorang guru, atau peneliti tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk melakukan eksplorasi yang lebih luas dan medalam berkenaan dengan keadaan di sekelilingnya. Gardner menyarankan agar orang tua mengasah satu atau dua kecerdasan yang memang menonjol.

Mungkin saja anak-anak kita tidak akan menjadi penari yang amat handal, seperti Nungki Kusumawati atau Farida Feisol, ataupun sehandal Einstein atau Habibie, namun anak tetap harus diberi kesempatan untuk mengembangkan berbagai kecerdasan yang mereka miliki sebatas kemampuan yang mereka bisa lakukan. Karena jika mereka memiliki peuang untuk mengembangkan kemampuan yang mereka miliki maka akan muncul perubahan-perubahan dalam aspek kognitif, emosional, social, bahkan fisik ke arah yang positif.

C.   FAKTOR – FAKTOR PENTING DALAM IMPLEMENTASI TEORI KECERDASAN GANDA

Implementasi teori kecerdasan ganda dalam aktivitas pembelajaran memerlukan dukungan komponen-komponen sistem persekolahan sebagai berikut :

  • Orang tua murid
  • Guru
  • Kurikulum dan fasilitas
  • Sistem penilaian

Komponen masyarakat, dalam hal ini orang tua murid, perlu memberikan dukungan yang optimal agar implementasi teori kecerdasan ganda di sekolah dapat berhasil. Orang tua, dalam konteks pengembangan kecerdasan ganda perlu memeberikan sedikit kebebasan pada anak mereka untuk dapat memilih kompetensi yang ingin dikembangkan sesuai dengan kecerdasan dan bakat yang mereka miliki.

Guru memegang peran yang sangat penting dalam implementasi teori kecerdasan ganda. Agar implementasi teori kecerdasan ganda dapat mencapai hasil seperti yang diinginkan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu :

  • Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan individu siswa
  • Kemampuan mengajar dan memanfaatkan waktu mengajar secara proporsional.

Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan ganda yang dimiliki oleh siswa merupakan hal yang sangat penting. Faktor ini akan sangat menentukan dalam merencanakan proses belajar yang harus ditempuh oleh siswa. Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengenali kecerdasan spesifik yang dimiliki oleh siswa. Semakin dekat hubungan antara guru dengan siswa, maka akan semakin mudah bagi para guru untuk mengenali karakteristik dan tingkat kecerdasan siswa.

Setelah mengetahui kecerdasan setiap individu siswa, maka  langkah – langkah berikutnya adalah merancang kegiatan pembelajaran. Armstrong (2004) mengemukakan proporsi waktu yang dapat digunakan oleh guru dalam mengimplementasikan teori kecerdasan ganda yaitu :

  • 30 % pembelajaran langsung
  • 30 % belajar kooperatif
  • 30% belajar independent

Implementasi teori kecerdasan ganda membawa implikasi bahwa guru bukan lagi berperan sebagai sumber (resources), tapi harus lebih berperan sebagai manajer kegiatan pembelajaran. Dalam menerapkan teori kecerdasan ganda, sistem sekolah perlu menyediakan guru-guru yang kompeten dan mampu membawa anak mengembangkan potensi-potensi kecerdasan yang mereka miliki. Guru musik misalnya, selain mampu memainkan  instrumen musik, ia juga harus mampu mengajarkannya sehimgga dapat menjadi panutan yang baik bagi siswa yang memiliki kecerdasan musikal.

Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda juga perlu menyediakan fasilitas pendukung selain guru yang berkualitas. Fasilitas tersebut dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam meningkatkan kecerdasan-kecerdasan yang spesifik.

Fasilitas dapat berbentuk media pembelajaran dan peralatan serta perlengkapan  pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda. Contoh fasilitas pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda antara lain : peralatan musik, peralatan olah raga dan media pembelajaran yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan spesifik.

Sistem penilaian yang diperlukan oleh sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda berbeda dengan sistem penilaian yang digunkan pada sekolah konvensional. Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda pada dasarnya berasumsi bahwa semua individu itu cerdas. Penilaian yang digunakan tidak berorientasi pada input dari proses pembelajaran tapi lebih berorientasi pada proses dan kemajuan (progress)  yang diperlihatkan oleh siswa dalam mempelajari suatu keterampilan yang spesifik. Metode penilaian yang cocok dengan sistem seperti ini adalah metode penilaian portofolio. Sistem penilaian portofolio menekankan pada perkembangan bertahap yang harus dilalui oleh siswa dalam mempelajari sebuah keterampilan atau pengetahuan.

BAB III

PENUTUP

A.  KESIMPULAN

Setiap individu memiliki potensi yang unik yang harus dikembangkan menjadi kompetensi. Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengembangkan potensi individu menjadi kompetensi. Manusia, pada dasarnya,  memiliki beberapa jenis kecerdasan yang menonjol. Howard Gardner, seorang pakar psikologi dari Harvard University, mengemukakan delapan jenis kecerdasan yang meliputi kecerdasan:

  • Bahasa
  • Matematis logis
  • Spasial
  • Musikal
  • Kinestetis tubuh
  • Interpersonal
  • Intrapersonal
  • Naturalis

Dalam mengimplementasikan teori kecerdasan ganda di sekolah, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu : masyarakat dan orang tua, guru, kurikulum, fasilitas pembelajaran dan sistem penilaian.

Strategi pembelejaran kecerdasan ganda bertujuan agar semua potensi anak dapat berkembang. Strategi dasar pembelajarannya dimulai dengan :

  • Membangun/memicu kecerdasan
  • Memperkuat kecerdasan
  • Mengajarkan dengan/untuk kecerdasan
  • Mentransfer kecerdasan

Sedangkan kegiatan-kegiatan dapat dilakukan dengan cara menyediakan hari-hari karir, studi tour, biografi, pembelajaran terprogram, eksperimen, majalah dinding, papan display, membaca buku-buku untuk mengembangkan kecerdasan ganda, membuat table perkembangan kecerdasan anda, atau human intelligence hunt.

B.   SARAN

Teori Howard Gardner tentang kecerdasan ganda memang masih memerlukan kajian dan banyak pengalaman lapangan. Namun, setidaknya teori ini telah banyak mengingatkan kepada kita bahwa manusia memang diciptakan unik, dan oleh karena itu peserta didik harus memperoleh layanan pendidikan yang sesusai dengan tipe kecerdasannya. Sejak awal, para pakar telah mengingatkan bahwa peserta didik bukanlah “botol kosong” yang siap untuk diisi dengan semua macam ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan untuk meneruskan kehidupan di masa mendatang. Pendidikan dengan model “banking system” menurut istilah Paulo Freire ini memang telah menjadi kritik tajam terhadap model pendidikan sekolah dengan sistem klasikalnya. Demikian juga dengan metode ceramah, yang dewasa ini memang masih amat mendominasi metode dan pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh para pendidik di negeri ini. Kata kuncinya adalah “kita tidak alergi dengan perubahan” selama perubahan itu untuk kemajuan dan perbaikan. Mudah-mudahan.

SUMBER :

Pudjiati, Retno. (2005). Teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Jakarta : Universitas Terbuka.

Delfi, Refny. (2007). Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences). Jakarta : Universitas Terbuka.

http://www.suparlan.com/pages/posts/kecerdasan-ganda-multiple-intelligences-penerapannya-dalam-proses-pembelajaran-dan-pengajaran95.php

http://fadlibae.wordpress.com/2010/03/24/teori-kecerdasan-ganda-dan-penerapannya-dalam-kegiatan-pembelajaran/

By nananksynarahim Posted in edukasi

8 Hadiah Terindah dan Tak Ternilai

– Kehadiran
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang bisa juga hadir lewat surat, telepon, foto, atau faks. Namun dengan berada di sampingnya, dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran sebagai pembawa kebahagiaan.

– Mendengar
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan ketimbang mendengarkan, sudah lama diketahui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati.  Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan dalam keadaan betul-betul relaxs dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan memberikan tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.

– Diam
Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya, diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah  terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik, bahkan mengomel.

– Kebebasan
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah “Kau bebas berbuat semaumu”. Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

– Keindahan
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik ? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho.  Bahkan tak salah jika mengkadokannya tiap hari ! Selain keindahan penampilan pribadi.

– Tanggapan Positif
Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negative terhadap pikiran, sikap, atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf) adalah kado indah yang sering terlupakan.

– Kesediaan Mengalah
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila memikirkan hal ini, berarti siap memberikan kado “kesediaan mengalah”. Okelah, mungkin kesal atau marah karena telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa musti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

– Senyuman
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus-asaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan syarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali kita menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi?

Daeng Kanang

Ciri-ciri cowok playboy

Playboy atau buaya darat?? sama saja lah, itu adalah cowok yang suka mempermainkan cewek atau pacarnya lebih dari 1. dalam artikel ini gue pengen kasih tau loe para cewek, ciri-ciri cowok playboy apa aja sih?? langsung aja ke topik utama yuk!! simak ciri-ciri playboy di bawah..

1. Kebanyakan ganteng.
Yups, memang cowok playboy itu ganteng, kalo tidak ganteng tidak mungkin lah punya pacar banyak. tapi tidak semua cowok playboy itu ganteng loh!!

2. Banyak teman cewek.
Pasti itu! yang namanya playboy itu banyak teman cewek nya. kenapa??
ya karena dia sering kenalan mulu lah sama cewek-cewek.

3. Pede & Tebar pesona.
Dimana-mana playboy itu selalu pede dan tebar pesona. apa lagi di depan cewek yang cakep. dan alasan nya pasti dia pengen banget di lirik-lirik sama cewek/caper gitu.

4. Pinter ngeGombal.
wahhh… yang satu ini adalah ciri khas nya playboy nih!! playaboy kalo tidak ngeGombal ala jitu nya itu nama nya bukan playboy!!

5. Lirik sana-sini.
Namanya juga playboy, pasti kalo ada cewek bening,cakep langsung di lirik. malah dia tiba-tiba kenalan sama cewek tersebut.

6. Ramah sama cewek cakep.
so pura-pura ramah gitu deh di depan cewek cakep, biar bisa narik hati cewek tersebut.

7. Gonta-ganti pacar melulu.
palyboy pasti kalo udah punya cewek/pacar, pacaran nya tidak bakal tahan lama. paling seminggu juga udah putus, dan kenalan lagi sama cewek.

8. Mantannya banyak.
seperti yang gue bilang di nomor 7. otomatis playboy itu banyak mantannya.

9. Pinter merayu.
sama saja sih sama nomor 4 diatas, cuma ini biasanya dia pakai gerakan anggota badan yang bisa naklukin cewek. seperti menggerakan tangan nya, kedipan mata, dll.

10. No Hp/tlp lebih dari satu.
koq bisa? bisa saja sebagai playboy mah, karna dengan dia mempunyai no Hp 2/3 bisa sukses dengan menjalani karir nya sebagai playboy! (kaya pekerjaan saja yah,, hehe..)
misalnya, nomor 021 untuk cewek A, nomor 0857 untuk cewek B.

NEUROLOGI

Neurologi adalah cabang dari ilmu kedokteran yang menangani kelainan pada sistem saraf. Dokter yang mengkhususkan dirinya pada bidang neurologi disebut neurolog dan memiliki kemampuan untuk mendiagnosis, merawat, dan memanejemen pasien dan kelainan saraf. Kebanyakan para neurolog dilatih untuk menangani pasien dewasa. Untuk anak-anak dilakukan oleh neurolog pediatrik, yang merupakan cabang dari pediatri atau ilmu kesehatan anak. Di Indonesia, dokter dengan spesialisasi neurologi diberi gelar Sp.S. atau Spesialis Saraf.
Bidang kerja
Para neurolog menangani kelainan pada sistem saraf, termasuk pada sistem saraf pusat (otak, batang otak, dan otak kecil), sistem saraf tepi (misalnya saraf otak), dan sistem saraf otonom. Neurolog juga dapat mendiagnosa dan memeriksa beberapa kasus pada sistem otot dan tulang (muskuloskeletal).
Kondisi mayor termasuk:
• sakit kepala seperti migrain
• epilepsi
• kelainan saraf yang degeneratif seperti penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, ataksia
• penyakit sistem peredaran darah di otak atau serebrovaskular seperti stroke
• kesulitan tidur
• palsi otak kecil
• infeksi otak seperti ensefalitis, meningitis, mielitis pada sum-sum tulang belakang
• kanker atau tumor di otak dan selaputnya, sistem saraf
• kelainan pergerakan seperti tremor pada penyakit Parkinson, khorea
• penyakit demielinasi pada sistem saraf pusat seperti sklerosis ganda, dan pada sistem saraf tepi seperti sindrom Guillain-Barré
• kelainan pada sum-sum tulang belakang
• kelainan sistem saraf tepi
• cedera traumatik
• status mental seperti koma
• kesulitan berbicara dan berbahasa
[sunting] Pendidikan
Di Indonesia, seseorang dapat menjalani pendidikan spesialisasi saraf setelah mendapat gelar profesi dokternya. Pendidikan spesialiasi dapat diikuti di universitas yang membuka program tersebut.
[sunting] Pemeriksaan
Selama pemeriksaan, neurolog meninjau riwayat kesehatan pasien dengan perhatian khusus pada kondisi saat ini. Pasien akan menjalani berbagai pemeriksaan klinis seperti pemeriksaan penglihatan, kekuatan, koordinasi, refleks, dan rangsangan. Informasi tersebut akan membantu neurolog untuk memastikan penyakit tersebut berhubungan pada sistem saraf. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan untuk mendiagnosis penyakit yang diderita pasien.
[sunting] Tugas klinis
[sunting] Kasus umum
Para neurolog bertanggung jawab pada diagnosis, perawatan, manajemen kondisi pasiennya. Bila diperlukan tindakan pembedahan, neurolog harus merujuk pasiennya pada dokter spesialisasi bedah saraf dan neuroradiolog. Di beberapa negara, neurolog diperlukan untuk menegakkan keputusan mati batang otak.
Neurolog juga bertanggung jawab untuk beberapa tindakan medis seperti fungsi lumbal. Namun bila neurolog tidak hadir, dokter umum yang berkemampuan dapat melakukan fungsi lumbal tersebut.
[sunting] Bidang kerja dengan spesialiasi lain
Setiap negara memiliki cabang kedokteran spesialis yang berbeda dan pada penerapan tugasnya. faktanya, banyak pasien stroke yang dirujuk ke dokter penyakit dalam, padahal hal ini dapat ditangani oleh neurolog. Pasien yang mengalami kesulitan tidur dapat pula dirujuk ke ahli pulmunologi. Sakit kepala yang ringan dapat dirujuk ke dokter umum.
[sunting] Neurologi dan psikiatri
Walau penyakit jiwa diyakini terdapat kelainan pada sistem saraf, namun hal ini ditangani oleh psikater atau ahli penyakit jiwa. Terdapat indikasi kuat bahwa mekanisme neuro-kimiawi berperan penting dalam penyakit jiwa seperti skizofrenia. Kelainan saraf sering pula memiliki manifestasi penyakit jiwa seperti depresi pasca stroke, kepikunan yang dihubungkan pada penyakit Parkinson, disfungsi kognitif pada penderita penyakit Alzheimer.
Tidak ada pembedaan yang terlalu besar antara neurologi dan psikiatri. Pembedaan ini hanyalah alasan praktis dan akar sejarah.
Polineuropati DEFINISI
Polineuropati adalah kelainan fungsi yang berkesinambungan pada beberapa saraf perifer di seluruh tubuh.

PENYEBAB
1. Infeksi bisa menyebabkan polineuropati, kadang karena racun yang dihasilkan oleh beberapa bakteri (misalnya pada difteri) atau karena reaksi autoimun (pada sindroma Guillain-Barr?).
2. Bahan racun bisa melukai saraf perifer dan menyebabkan polineuropati atau mononeuropati (lebih jarang).
3. Kanker bisa menyebabkan polineuropati dengan menyusup langsung ke dalam saraf atau menekan saraf atau melepaskan bahan racun.
4. Kekurangn gizi dan kelainan metabolik juga bisa menyebabkan polineuropati.
Kekurangan vitamin B bisa mengenai saraf perifer di seluruh tubuh.
5. Penyakit yang bisa menyebabkan polineuropati kronik (menahun) adalah diabetes, gagal ginjal dan kekurangan gizi (malnutrisi) yang berat.
Polineuropati kronik cenderung berkembang secara lambat (sampai beberapa bulan atau tahun) dan biasanya dimulai di kaki (kadang di tangan).

Pengendalian kadar gula darah yang buruk pada penderita diabetes bisa menyebabkan beberapa jenis polineuropati.
Yang paling sering ditemukan adalah neuropati diabetikum, yang merupakan polineuropati distalis, yang menyebabkan kesemutan atau rasa terbakar di tangan dan kaki.
Diabetes juga bisa menyebabkan mononeuropati atau mononeuropati multipel yang berakhir dengan kelemahan, terutama pada mata dan otot paha.

GEJALA
Kesemutan, mati rasa, nyeri terbakar dan ketidakmampuan untuk merasakan getaran atau posisi lengan, tungkai dan sendi merupakan gejala utama dari polineuropati kronik.

Nyeri seringkali bertambah buruk di malam hari dan bisa timbul jika menyentuh daerah yang peka atau karena perubahan suhu.

Penderita tidak bisa merasakan suhu dan nyeri, sehingga mereka sering melukai dirinya sendiri dan terjadilah luka terbuka (ulkus di kulit) akibat penekanan terus menerus atau cedera lainnya.

Karena tidak dapat merasakan nyeri, maka sendi sering mengalami cedera (persendian Charcot).

Ketidakmampuan untuk merasakan posisi sendi menyebabkan ketidakstabilan ketika berdiri dan berjalan.
Pada akhirnya akan terjadi kelemahan otot dan atrofi (penyusutan otot).

Banyak penderita yang juga memiliki kelainan pada sistem saraf otonom, yang mengendalikan fungsi otomatis di dalam tubuh, seperti denyut jantung, fungsi pencernaan, kandung kemih dan tekanan darah.
Jika neuropati perifer mengenai saraf otonom, maka bisa terjadi:
– diare atau sembelit
– ketidakmampuan untuk mengendalikan saluran pencernaan atau kandung kemih
– impotensi
– tekanan darah tinggi atau rendah
– tekanan darah rendah ketika dalam posisi berdiri
– kulit tampak lebih pucat dan lebih kering
– keringat berlebihan.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

Elektromiografi dan uji kecepatan penghantaran saraf dilakukan untuk memperkuat diagnosis.

Pemeriksaan darah dilakukan jika diduga penyebabnya adalah kelainan metabolik (anemia pernisiosa karena kekurangan vitamin B12), diabetes (kadar gula darah meningkat) dan gagal ginjal (kadar kreatinin meningkat).

Pemeriksaan air kemih bisa menunjukkan adanya keracunan logam berat atau mieloma multipel.

PENGOBATAN
Pengobatan tergantung kepada penyebabnya.

Jika penyebabnya adalah diabetes, maka pengendalian kadar gula darah bisa menghentikan perkembangan penyakit dan menghilangkan gejala, tetapi penyembuhannya lambat.

Mengobati gagal ginjal dan mieloma multipel bisa mempercepat penyembuhan polineuropati.

Pembedahan dilakukan pada penderita yang mengalami cedera atau penekanan saraf.

Terapi fisik kadang bisa mengurangi beratnya kejang otot atau kelemahan otot.
http://medicastore.com/penyakit/671/Polineuropati.html
PENYAKIT SARAF TEPI & OTOT (by Dr. Achdiat Agoes, Sp.S.)
Desember 25,2009
Pendahuluan
Penyakit Saraf dan Otot adalah merupakan bagian dari penyakit saraf yang disebabkan terganggunya fungsi saraf tepi atau otot. Untuk memahami penyakit tersebut perlu dikuasai anatomi, fisiologi, biokemistri dan farmakologi sistem saraf baik pusat maupun tepi. Susunan Saraf Pusat terdiri dari Otak dan Medula Spinalis sedangkan Susunan Saraf Tepi terdiri dari sel saraf dan serabut-serabutnya yang dapat berasal dari otak seperti saraf kepala (saraf kranialis) atau medula spinalis seperti radiks dan nervi spinales.
Anatomi
Saraf Tepi yang termasuk saraf kepala meliputi
1. n. olfaktorius
2. n. optikus
3. n. oftalmikus
4. n. trokhlearis
5. n. trigeminus
6. n. abduscens
7. n. fasialis
8. n. vestibulocochlearis
9. n glossofaringeus
10.n. vagus
11.n. accessorius
12. n. hipoglosus
Saraf Tepi yang termasuk saraf spinales kebanyakan bergabung menjadi satu sehingga dikenal sebagai nervi servikales, nervi torakales, nervi lumbales, dan nervi sakrales. Gabungan saraf tepi semacam ini disebut juga pleksus, sehingga dikenal pleksus servikotorakales (gabungan radiks C1-8 dan T1) dan pleksus lumbosakrales (gabungan radiks L1-5 dan S1-5).
Patomekanisme
Gangguan faal pada saraf tepi dapat berasal dari gangguan biokemistri seperti terganggunya keseimbangan air dan elektrolit, inflamasi (radang), proses keganasan, trauma dan lain sebagainya.
Untuk mempercepat hantaran impuls yang berupa muatan listrik dari proksimal ke distal serabut saraf (akson) mempunyai selubung yang disebut mielin. Mielin diproduksi oleh sel Schwann yang membalut akson dan pada titik tertentu mempunyai takik yang disebut nodus Ranvier. Adanya nodus Ranvier memungkinkan hantaran listrik meloncat sehingga lebih cepat sampai ke efektor (serabut saraf eferen), atau sebaliknya dari reseptor lebih cepat sampai ke sentral (serabut saraf aferen). Tidak semua serabut saraf bermielin, ada juga serabut saraf yang kecil dan pendek tidak bermielin dan saling menghubungkan sesama sel saraf di otak. Pada penyakit saraf tepi kerusakan dapat terjadi pada akson, disebut aksonopati, atau pada mielin (mielinolisis) dan kombinasi keduanya dapat saja terjadi. Pada gangguan di akson, proses kesembuhan berlangsung lama, tidak demikian halnya bila pada mielin lebih besar kemungkinan cepat kembali seperti semula.
POLIOMIELITIS ANTERIOR AKUTA
Salah satu diantara penyakit saraf tepi yang populer adalah polio yang nama selengkapnya adalah poliomielitis anterior akuta. Sesuai namanya bagian yang terkena sebenarnya adalah mielum bagian anterior yang disebut juga kornu anterior sehingga lesi yang ditimbulkan berupa kelumpuhan tipe perifer karena inti sel saraf di kornu anterior mengalami nekrosis. Akibatnya adalah serabut saraf yang terkena terutama aksonnya tidak berfungsi lagi dan otot yang dipersarafi lama kelamaan (dan proses berlangsung cepat) menjadi atrofi. Otot yang atrofi menjadi kecil dan ekstremitas memerlukan bantuan alat untuk dapat berfungsi kembali.
Tidak ada terapi khusus pada polio sehingga terapi pada penyakit ini lebih bersifat suportif.
Hindari menggunakan terapi suntik pada penderita yang panas saat epidemi polio sedang berjangkit (outbreak) karena akan memicu lebih banyak sel saraf yang mati. Kehati-hatian ini juga menjadi penting karena makin banyaknya kegiatan sueing di tengah masyarakat. Pencegahan penyakit ini adalah dengan melaksanakan vaksinasi polio di masyarakat.
Guillain Barre Syndrome
Nama lain:
1. Acute idiopathic poly (radiculo)neuritis,
2. Acute inflammatory (demyelinating) polyneuropathy,
3. Infectious polyneuritis,
4. Landry-Guillain-Barre syndrome
5. French Polio
6. Landry’s ascending paralysis
7. Landry Guillain Barré syndrome.
Guillain-Barre syndrome (GBS) adalah suatu penyakit otoimun yang bersifat akut. Sebenarnya jarang ditemukan, dimana sel-sel sistim imun menyerang selubung myelin saraf tepi. Saraf tepi menghubungkan otak dan medulla spinalis dengan bagian tubuh lain. Kerusakan pada saraf tepi akan menimbulkan gangguan hantaran sinyal sebagai akibatnya otot akan berkurang kekuatannya, penyebab sebenarnya penyakit ini belum diketahui tetapi dapat dipicu oleh infeksi, operasi dan vaksinasi.
Gejala pertama biasanya adalah panas atau demam yang dapat tinggi atau sedang dan pada hari ketiga diikuti oleh kelemahan dan kesemutan (gringgingen) di kedua tungkai. Kemudian gejala ini akan memanjat keatas. Pada keadaan yang parah terjadi kelumpuhan total. Penyakit ini mengancam nyawa bila otot pernafasan diserang. Pada keadaan seperti ini diperlukan respirator. Keadaan yang parah akan berlangsung beberapa pekan, kemudian menjadi stabil dan membaik dengan perawatan yang baik pula. Ada pula perbaikan yang memakan waktu sangat lama hingga beberapa tahun. Pengobatan biasanya dilakukan dengan obat-obatan dan penggantian plasma (plasma exchange).
Penyakit ini termasuk kelompok penyakit neuropati perifer. Ada beberapa jenis GBS, tetapi bila tidak diberi keterangan lain maka yang dimaksud adalah GBS dalam bentuk umum.
Epidemiologi
Insidens 1 atau 2 orang per 100,000 penduduk.[6] Seringkali parah dan menunjukkan kelumpuhan memanjat mula-mula kaki dan tungkai kemudian lengan dan tangan juga terkena tidak terkecuali otot pernafasan dan wajah. Karena merupakan lesi saraf tepi makan refleks tendon akan menghilang. Dengan pengobatan yang segera dengan penggantian plasma maka diharapkan kesembuhan segera terjadi. Pemberian imunoglobulin menolong. Dan jangan dilupakan pengobatan penunjang seperti pemberian neurotropik vitamin. Sebagian besar pasen dapat pulih normal kembali. GBS juga menjadi penyebab kelumpuhan yang tidak disebabkan oleh cedera di dunia.
Patomekanisme
Untuk memahami terjadinya GBS dapat diuraikan sebagai berikut:
Serabut saraf terdiri dari lembaran myelin yang membungkus akson. Akson sendiri adalah perpanjangan sel saraf yang menjulur sampai ke bagian tubuh yang akan di persarafi oleh saraf tersebut. Misalnya N. Ischiadicus mempunyai kelompokl sel saraf yang terletak di cornu anterior medula spinali segmen lumbal dan kumpulan aksonnya membentuk saraf N. Ischiadicus yang mempersarafi otot-oto tungkai (AA).
Otak adalah kumpulan sel-sel otak yang banyak sekali jumlahnya. Untuk dapat menggerakkan anggota tubuh seperti lengan dan tungkai maka dari otak sel otak tersebut akan menjulurkan bagian sel otak yang disebut akson. Akson akan terus berjalan sepanjang tubuh dan mencapai organ yang ditujunya (AA). Otak terdiri dari dua belahan yang disebut hemisfer. Hemisfer serebri sebelah kiri erat tugasnya dengan tugas menghitung dan bicara bahasa sedangkan hemisfer sebelah kanan erat tugasnya dengan seni dan ketrampilan ruang. Otak mempunyai banyak lekuk untuk menghemat ruang yang akan mampu menampung 200 milyar sel otak yang terdiri dari sel otak neuron dan sel glia (AA). • Lobus frontalis mengontrol fikiran, perencanaan, mengorganisasikan, menyelesaikan masalah, daya ingat jangka pendek dan gerakan.
• Lobus parietalis menginterpretasikan informasi sensorik, rasa, suhu, dan sentuhan.
• Lobus oksipitalis memproses bayangan yang masuk melalui mata dan menghubungkan dengan memori yang tersimpan.
• Lobus temporalis memproses informasi yang masuk melalui penghiduan/penciuman, rasa, dan suara. Juga berperan dalam daya ingat (AA).
Serebelum terletak dibawah otak belakang oksipital. Tugasnya menyelaraskan informasi sensor dari mata, telinga, dan otot untuk koordinasi gerak. Kerusakan menimbulkan intention tremor tubuh bergetar ketika akan mengambil sesuatu.
Batang Otak bertugas menghubungkan otak dengan medulla spinalis mengawasi fungsi kehidupan yang vital seperti detak jantung, nafas dan tekanan darah. Di daerah ini pula terletak kendali tidur dan kesadaran (AA). Struktur Dalam Otak
Berfungsi untuk emosi dan daya ingat/memori. Dikenal sebagai system limbic terdiri dari pasangan-pasangan, di kedua belah otak.
Thalamus bekerja sebagai pintu gerbang pesan yang masuk antara otak dan medulla spinalis
Hipothalamus mengontrol emosi dan mengatur suhu, makan dan tidur.
Hippocampus mengirimkan ingatan untuk disimpan di tempat yang disediakan di otak dan dapat di panggil kembali bila dibutuhkan (AA).
Sel Saraf
Sel Saraf memiliki dua tipe cabang yaitu neurite atau akson dan dendrite. Dendrit membawa impuls dari luar kea rah sel dan neurite membawa impuls dari sel kea rah luar. Sel saraf saling berhubungan dengan sesame sel saraf melalui dendrite tersebut sehingga tercipta komunikasi yang efeisien dan cepat sekali (AA).
Susunan Saraf tTepi
Saraf tepi adalah semua saraf di tubuh keluar dari otak dan medulla spinalis. Bekerja sebagai penghantar antara otak dan anggota tubuh. Misalnya tangan menyentuh setrika panas maka seketika tangan akan ditarik karena informasi panas dibawa ke otak dan otak memerintahkan untuk menarik tangan dari setrika. Ini hanya beberapa milidetik (AA).
Neurotransmitters
Neuron berhubungan dengan sel lain melalui impuls elektrik yang mendorong neurotransmitter lepas dari ujung sel saraf.
Neurotransmiter lepas ke sinaps suatu celah antara dua sel saraf dan menempel ke reseptor di sel penerima. Proses ini terjadi berulang antara neuron ke neuron. Semuanya ini memungkinkan terjadinya gerakan, pikiran, perasaan dan kemampuan untuk berkomunikasi (AA).
Pada GBS terjadi gangguan pada saraf tepi sehingga kekuatan kedua tungkai dan ekstremitas dapat terkena. Klasifikasi
Terdapat enam jenis GBS yaitu:
• Acute inflammatory demyelinating polyneuropathy (AIDP) gangguan terutama terjadi berupa kerusakan selubung saraf myelin dari sel.
• Miller Fisher syndrome (MFS) adalah jenis yang jarang karena berupa kelumpuhan yang menurun dari atas ke bawah jadi kebalikan dari GBS. Mula-mula otot mata yang terserang sehingga terjadi trias ophthalmoplegia, ataxia, dan areflexia. Antibodi Anti-GQ1b sering dijumpai pada 90% kasus.
• Acute motor axonal neuropathy (AMAN),[8] atau Chinese Paralytic Syndrome, menyerang motorik yaitu pada nodes of Ranvier dan banyak (prevalen) di China dan Mexico. Merupakan serangan auto-immune pada axoplasm saraf tepi. Sering terjadi pada musim tertentu dan penyembuhan lebih cepat. Pada pasen akan terdapat anti-GD1a antibodi[9]. Antibody Anti-GD3 banyak dijumpai pada AMAN.
• Acute motor sensory axonal neuropathy (AMSAN) serupa dengan AMAN hanya juga disertai serangan pada serabut saraf sensorik dengan kerusakan aksonal. Seperti AMAN juga disebabkan serangan oto imun terhadap aksoplasma saraf tepi. Penyembuhan lambat dan inkomplit.
• Acute panautonomic neuropathy imerupakan jenis yang jarang dari GBS sering disertai ensefalopati dengan mortalitas yang tinggi. Kematian disebabkan pembesaran jantung dan disritmia, gangguan berkeringat dan kekurangan air mata. Fotofobia, keringnya rongga hidung dan mukosa mulut, gatal, mual dan muntah sering terjadi dan disfagia. Konstipasi juga dapat terjadi yang tidak hilang dengan laksan. Dan bisa pula berganti dengan diare. Gejala awal biasanya lelah dan lemas seperti lethargy, fatigue, sakit kepala, dan menurunnya kemauan, malas, lalu diikuti gangguan otonomik seperti pusing bila berdiri, mata kabur, nyeri perut, diare, mata kering, dan gangguan kencing. Yang paling sering adalah pusing bila berdiri, gangguan gastrointestinal dan kencing dan gangguan berkeringat.
• Bickerstaff’s brainstem encephalitis (BBE), jenis lain dari Guillain-Barré syndrome. Ditandai oleh acute onset ophthalmoplegia, ataxia, gangguan kesadaran, hyperreflexia or Babinski’s sign (Bickerstaff, 1957; Al-Din et al.,1982). Perjalanan penyakit monofasik atau sering relaps. Gangguan patologi terutama di batang otak, pons, midbrain, dan medulla. Meski pada fase awal terlihat parah prognosis baik. Diagnosis dengan MRI.
Sebagian pasen BBE mempunyai hubungan dengan axonal Guillain-Barré syndrome, menjadi indikasi bahwa kedua penyakit ini mempunyai kesamaan.
Pada GBS terjadi gangguan pada saraf tepi sehingga kekuatan kedua tungkai dan ekstremitas dapat terkena.
Klasifikasi
Terdapat enam jenis GBS yaitu:
• Acute inflammatory demyelinating polyneuropathy (AIDP) gangguan terutama terjadi berupa kerusakan selubung saraf myelin dari sel.
• Miller Fisher syndrome (MFS) adalah jenis yang jarang karena berupa kelumpuhan yang menurun dari atas ke bawah jadi kebalikan dari GBS. Mula-mula otot mata yang terserang sehingga terjadi trias ophthalmoplegia, ataxia, dan areflexia. Antibodi Anti-GQ1b sering dijumpai pada 90% kasus.
• Acute motor axonal neuropathy (AMAN),[8] atau Chinese Paralytic Syndrome, menyerang motorik yaitu pada nodes of Ranvier dan banyak (prevalen) di China dan Mexico. Merupakan serangan auto-immune pada axoplasm saraf tepi. Sering terjadi pada musim tertentu dan penyembuhan lebih cepat. Pada pasen akan terdapat anti-GD1a antibodi[9]. Antibody Anti-GD3 banyak dijumpai pada AMAN.
• Acute motor sensory axonal neuropathy (AMSAN) serupa dengan AMAN hanya juga disertai serangan pada serabut saraf sensorik dengan kerusakan aksonal. Seperti AMAN juga disebabkan serangan oto imun terhadap aksoplasma saraf tepi. Penyembuhan lambat dan inkomplit.
• Acute panautonomic neuropathy imerupakan jenis yang jarang dari GBS sering disertai ensefalopati dengan mortalitas yang tinggi. Kematian disebabkan pembesaran jantung dan disritmia, gangguan berkeringat dan kekurangan air mata. Fotofobia, keringnya rongga hidung dan mukosa mulut, gatal, mual dan muntah sering terjadi dan disfagia. Konstipasi juga dapat terjadi yang tidak hilang dengan laksan. Dan bisa pula berganti dengan diare. Gejala awal biasanya lelah dan lemas seperti lethargy, fatigue, sakit kepala, dan menurunnya kemauan, malas, lalu diikuti gangguan otonomik seperti pusing bila berdiri, mata kabur, nyeri perut, diare, mata kering, dan gangguan kencing. Yang paling sering adalah pusing bila berdiri, gangguan gastrointestinal dan kencing dan gangguan berkeringat.
• Bickerstaff’s brainstem encephalitis (BBE), jenis lain dari Guillain-Barré syndrome. Ditandai oleh acute onset ophthalmoplegia, ataxia, gangguan kesadaran, hyperreflexia or Babinski’s sign (Bickerstaff, 1957; Al-Din et al.,1982). Perjalanan penyakit monofasik atau sering relaps. Gangguan patologi terutama di batang otak, pons, midbrain, dan medulla. Meski pada fase awal terlihat parah prognosis baik. Diagnosis dengan MRI.
Sebagian pasen BBE mempunyai hubungan dengan axonal Guillain-Barré syndrome, menjadi indikasi bahwa kedua penyakit ini mempunyai kesamaan.
Gejala dan Tanda (Signs and symptoms)
Penyakit GBS ditandai dengan gangguan kelemahan yang bersifat simetris. Pada awalnya menyerang kedua tungkai dan kemudian berangsur-angsur naik ke lengan. Pasen biasanya mengeluh kedua tungkai terasa berat dan merasakan seperti ada beban dan perasaan gringgingen serta tebal. Ada juga rasa disestesia (numbness atau tingling). Penyakit berlanjut keatas dalam waktu beberapa jam atau hari dan kemudian otot wajah dan lengan mulai lemah. Sering kali saraf otak bagian bawah terkena. Disebut juga kelumpuhan tipe bulbar dan menimbulkan oropharyngeal dysphagia, dengan kesulitan menelan mengisap air liur dan sulit bernafas. Sebagian besar pasen perlu perawatan rumah sakit (MRS) dan sekitar 30% perlu bantuan ventilator [11]. Kelemahan otot wajah dapat terjadi tapi otot mata jarang terkena. Bila otot wajah dan otot mata terkena maka kemungkinan besar kasus tersebut adalah Sindroma Miller-Fisher (varian Miller-Fisher). Hilangnya sensorik biasanya berupa sensasi proprioception (rassa posisi) dan areflexia (hilangnya refleks tendo) tanda khas GBS. Hilangnya sensasi nyeri dan suhu biasanya ringan. Dan semsasi nyeri bahkan bertambah pada otot yang terkena. Rasanya seperti nyeri orang yang kelelahan. Nyeri ini biasanya hilang sendiri dan dapat diobati dengan analgesic biasa. Gangguan kandung kencing dapat terjadi pula pada kasus yang parah. Tetapi bersifat sementara. Bila gangguan kandung kencing berlebihan perlu dipertimbangkan kelainan medulla spinalis.
Demam jarang ada dan bila ada harus dipikirkan kemungkinan suatu sebab yang lain.
Pada keadaan yang berat hilangnya fungsi otonom dapat terjadi berupa tekanan darah yang naik dan turun berfluktuasi, hipotensi orthostatik dan aritmia jantung.
Penyebab paralisi akut Guillain-Barré Syndrome dapat dihubungkan dengan faktor blokade sodium channel di cairan spinal (cerebrospinal fluid (CSF)). Gangguan pemberian SIADH dapat terjadi akibat pemberian air dan garam secara intravena yang tidak tepat. Gejalanya serupa dengan progressive inflammatory neuropathy.[12]
Penyebab
Semua bentuk Guillain-Barré syndrome merupakan akibat respons immune terhadap antigen asing (seperti infeksi) yang menjadi salah sasaran. Target sebenarnya dari antigen tersebut diduga adalah gangliosides, suatu bahan alami yang terdapat dalam junlah besar dalam saraf manusia. Sedangkan infeksi penyebab paling sering adalah bakteri Campylobacter jejuni.[13] Namun demikian 60% kasus tidak diketahui kuman penyebabnya, dimana diduga dapat berupa virus influenza atau semacam reaksi imun terhadap virus influenza.
Akibat serangan oto imun terhadap saraf tepi adalah kerusakan mielin selaput pembungkus saraf dan gangguan hantaran saraf.sehingga menimbulkan kelumpuhan otot dan gangguan otonomik dan sensorik.
Pada kasus yang ringan akson mungkin tidak terlalu terganggu dan penyembuhan kembali cepat berlangsung dengan remielinasi. Sebaliknya pada kasus yang parah terjadi kerusakan akson dan penyembuhan berlangsung lama. Diperkirakan 80% kasus GBS terhadi kehilangan mielinof sedangkan pada yang dua puluh persen kehilangan akson.
Guillain–Barré Syndrome tidak seperti multiple sclerosis (MS) dan penyakit ALS (Lou Gehrig’s disease (ALS), yang menyebabkan kerusakan otak dan medulla spinalis.
Vaksin Influenza
GBS dapat terjadi meskipun jarang sebagai akibat efek samping pemberian vaksin influenza, hasil penelitian Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) dengan frekuensi 1 per sejuta vaksin. [15] Ada laporan sehubungan dengan vaksinasi swine flu (flu babi) maka 500 orang terkena GBS pada saat tahun 1976. Dua puluh lima orang diantaranya meninggal akibat komplikasi gangguan paru yang parah dan menyebabkan vaksinasinya dihentikan.[16] Namun, peran vaksin pada kasus tersebut tetap tidak jelas, karena GBS mempunyai insidens yang rendah di masyarakat. Ada dugaan kejadian tersebut berhubungan dengan kontaminasi bakteri pada vaksin tersebut.
Pada pemberian vaksin yang terakhir 6 Oktober hingga 24 November, 2009, the U.S. CDC, VAERS reporting system, menerima laporan 4 kasus dari 46.2 million dosis vaksin yang diberikan.
Diagnosis
Diagnosis GBS ditegakkan dengan adanya kelumpuhan yang akut, areflexia, tidak ada demam saat kelumpuhan, dan hasil pemeriksaan cairan spinal. Cairan spinal diperoleh dari pungsi lumbal dan pemeriksaan elektromiografi (EMG) berupa tes hantaran saraf pada otot yang lumpuh.
• Cairan spinal (cerebrospinal fluid)
Disosiasi albumino sitologis sering dijumpai berupa albumin tinggi tetapi jumlah sel tetap. Protein naik hingga 100–1000 mg/dL, tanpa disertai kenaikan jumlah sel (pleositosis). Bila dijumpai sel meningkat maka diagnosis GBS perlu dipertimbangkan.
• Elektrodiagnosis
Pemeriksaan Electromyography (EMG) dan nerve conduction study (NCS) dapat menunjukkan latensi yang memanjang dan perlambatan hantaran atau blok hantaran dan potensial aksi kompleks pada kasus demielinating. Pada kerusakan akson dapat amplitude menurun tanpa perlambatan hantaran.
Kriteria Diagnosis
Utama
• Kelumpuhan yang progresif, simetris kedua tungkai atau disertai lengan akibat neuropati.
• Areflexia
• Penyakit berlangsung lebih dari 4 pekan.
• Faktor Eksklusi sebab-sebab lain.
Pendukung
• Kelumpuhan yang relative simetris dan adanya nyeri atau rasa tebak pada tungkai yang terkena
• Gangguan sensori ringan
• Gangguan saraf fasial dan saraf otak lain
• Tidak ada demam
• Perubahan temuan cairan spinal (CSF)
• Elektrodiagnostik ada tanda demielinasi
Diagnosis Banding
• acute myelopathies dengan chronic back pain dan sphincter dysfunction
• botulism dengan hilangnya refleks pupil yang cepat
• diphtheria dengan disfungsi oropharyngeal yang cepat
• Lyme disease polyradiculitis dan kelumpuhan karena gigitan kutu (tick-borne)
• porphyria dengan nyeri abdomen, kejang, psikosis
• vasculitis neuropatia
• poliomyelitis dengan demam dan tanda meningeal
• CMV polyradiculitis pada pasen dengan immunokompromis
• neuropatia pada penyakit kritis
• miastenia gravis
• Keracunan dengan organofosfat, keracunan bahan hemlock, thallium, atau arsen
• Kelumpuhan karena virus West Nile
• astrositoma spinal
• Penyakit Motor Neuron
• Virus West Nile dapat menimbulkan penyakit neurologis yang fatal seperti ensefalitis, meningitis, Guillain-Barre syndrome, dan mielitis anterior
• Ensefalomielitis Mialgik Parah/Sindroma Fatig Kronik.
Managemen
Pada umumnya suportif. Monitor semua fungsi vital. Hati-hati dengan gagal nafas yang disebabkan kelumpuhan otot nafas. Pasang intubasi pada pasen dengan kapasitas vital menurun (vital capacity (VC) <20 ml/kg), Negative Inspiratory Force (NIF) 40 tahun,
2. riwayat diare sebelumnya.
3. adanya kelumpuhan otot nafas.
4. titer anti-GM1 tinggi.
5. kekuatan ekstremitas atas lemah
Sejarah
Jean Landry seorang dokter Perancis menguraikan pertama kali tahun 1859. Pada 1916, Georges Guillain, Jean Alexandre Barré, and André Strohl mendiagnose dua serdadu dengan penyakit ini dimana protein cairan spinal meningkat sedangkan jumlah sel lekosit normal.
Orang-orang Yang Pernah Menderita GBS:
Fraklin D. Roosevelt,Baharuddin dll.